Pages

Labels

slide

25 Mei 2015

Labelisasi


source : http://eudesignstudio.com/white-label-web-design/
“Ketika label tersebut hilang dalam diri seorang manusia, maka dia pun tidak menjadi apa-apa”. 
Potongan monolog salah satu aktor dalam film “Malaikat Tanpa Sayap” (abaikan masalah film-nya) di atas tetiba mengingatkan saya tentang pesan yang disampaikan oleh Prof. Rhenald Kasali dalam tulisannya di sebuah surat kabar nasional. Inti dari pesan tersebut ialah tentang pentingnya mencari “meaning” daripada “money”. (tulisan lengkapnya bisa dibaca di sini).
Ya, setidaknya hal tersebut yang sedang saya coba pahami akhir-akhir ini, yaitu tentang apa dan bagaimana menemukan meaning
Awal yang sama
Setiap manusia lahir dengan kapasitas yang sama. Meskipun terlahir dengan kondisi yang berbeda, pada hakikatnya setiap manusia terlahir dalam keadaan “suci” dan tanpa pengetahuan apa-apa. 
Setelah bayi tersebut lahir, barulah muncul “labelisasi” yang didasarkan pada latar belakang keluarga, masyarakat di sekitar rumah, periode kelahiran bahkan sampai rupa sang bayi. Label tersebut hadir dengan berbagai jalan, dari mulai pemberian nama, opini masyarakat dan atau sengaja “dilabelisasi” sendiri oleh keluarganya. 
Contoh kasus dari konteks yang dituliskan di atas saya yakin sudah sering ditemui di tengah masyarakat. Seperti ketika seorang raja atau sultan memiliki anak, maka tentu persepsi orang terhadap anak tersebut akan berbeda dengan seorang anak yang terlahir dari seorang (mohon maaf) tukang ojeg. Namun, sekali lagi hal tersebut merupakan sebuah “labelisasi” yang bukan didasarkan kapasitas anak, namun faktor eksternal yang memiliki hubungan dekat dengan anak tersebut.
Dan dalam konteks ini saya setuju dengan kutipan di atas bahwa pada suatu saat ketika label tersebut hilang, maka kita pun tidak akan menjadi apa-apa.
Labelisasi ulang
Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya seorang anak manusia, akan terjadi pula “labelisasi ulang”, mulai dari label pintar dan bodoh di bangku sekolah, aktivis dan apatis di bangku perkuliahan, “bos” dan karyawan di dunia pekerjaan bahkan sampai pada labelisasi secara penampilan di tengah masyarakat entertainment. 
Pada fase ini, kita sebagai manusia mulai “di-labelisasi” berdasarkan kapasitas dan hasil yang telah dicapai. Singkat cerita, label yang telah diberikan akan berubah seiring berkembangnya kapasitas dan pencapaian. 
Fase ini menjadi tantangan tersendiri, mengapa? Karena seiring berjalannya waktu, akan ada “labelisasi ulang” yang menuntut ke-istiqomah-an (kontinuitas) agar label yang baru justru tidak bersifat kontradiktif. Bahkan sebaliknya, label baru tersebut dapat bersifat contradistinct.
“Labelisasi ulang” tersebut akan terus terjadi sampai batas waktu hidup di dunia ini habis. Bahkan seringkali, saat seseorang meninggal dunia sekali pun, “labelisasi ulang” terus terjadi seiring dengan bertambahnya fakta yang terungkap.
So, Meaning or Money?
Kembali ke bahasan yang saya singgung di awal, bahwa pencarian meaning menjadi hal penting daripadamoney. Bagi saya, Money bukan hanya dalam bentuk eksplisit saja, namun merupakan representasi dari hal-hal yang bersifat fana atau temporer. Sedangkan meaning merepresentasikan sesuatu yang bersifat abadi atau langgeng. 
Jika dikorelasikan antara labelisasi dengan meaning atau money, maka keduanya (dapat) saling mempengaruhi. Sederhananya, jika money menjadi prioritas, maka label yang diterima bisa saja baik, namun hal tersebut akan berubah seiring dengan berjalannya waktu dan meaning tidak akan tercapai. Namun saatmeaning yang dicari, selain money label yang didapat pun akan lebih bersifat langgeng dan infinitif. 
Hanya saja, (selalu saja) kondisi ideal, akan sukar ditemukan dalam realitas kehidupan di dunia ini. Subjektifitas dan kesalahan persepsi menjadikan realitas terkadang bersifat kontradiktif dengan konsep ideal. Namun jika kita berbicara dalam konteks “pahala” dan “dosa”, serta keyakinan akan adanya balasan dari apa yang dilakukan di dunia, maka pencarian meaning akan menjadi sesuatu yang esensial dari pada pencarianmoney ataui bahkan label (dari manusia) itu tersendiri. 
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.  (QS. Al-Hasyr : 18)
(penjelasan lebih lengkap tentang ayat di atas, dapat dilihat disini)

18 Mei 2015

Kelas Tadi Pagi

Selamat hari buku nasional...
Jadi ceritanya, tadi pagi saya “main” lagi sama anak-anak di pesisir Tambak Lorok Semarang, bareng temen-temen dari komunitas Asa Edu Project. Sudah lama sekali, sejak “kelas mimpi” terakhir (bahkan saya lupa sudah berapa lama), pada akhirnya saya bisa bertemu lagi dengan mereka di kelas tadi pagi.

Rasa bahagia selalu hadir. Entah apa motif-nya, keceriaan itu selalu menghiasi saat-saat bersama mereka, begitu juga dengan kelas tadi pagi. Hampir tidak terlihat rasa sedih, resah atau bahkan galau dari wajah mereka, yang terlihat hanya senyuman yang menghangatkan.

Kelas tadi pagi pun diisi dengan materi bahasa inggris dan ikan. Seperti biasanya, suasana materi pun terasa begitu ramai dengan tawaan serta “ketidakmau-diaman” anak-anak. Jawaban-jawaban polos dari setiap pertanyaan-pun menjadi pemantik keramaian. Maklum saja, mayoritas dari mereka masih seumuran siswa TK dan SD kelas 1,2 dan 3.

Salah satu momen yang menampilkan kepolosan mereka ialah ketika materi bahasa inggris. Mbak ulfa (pengajar bahasa inggris tadi pagi), mengajarkan cara berkenalan menggunakan bahasa inggris.  “My name is Ulfa” begitu contoh mba ulfa, dan ketika ridwan (salah satu murid) ditanya “what is your name?” sontak dia menjawab “my name is ulfa”. Dan hal tersebut berhasil membuat kami (para relawan) dan murid yang lain tertawa.

Ini nih yang namanya Ridwan
Selain materi bahasa inggris, kelas tadi pagi juga diisi dengan materi ikan. Antusiasme terlihat sekali dari wajah-wajah mereka. Hal ini terlihat ketika mas Fauzi (pemberi materi ikan) menampilkan gambar-gambar ikan di laptop mereka langsung mendekati laptop dan kembali membuat “keributan” karena saling mau duduk di depan. Meskipun mereka suka makan ikan dan bahkan tidak asing dengan ikan, tapi ternyata kebanyakan dari mereka belum tahu nama-nama ikan. Nama ikan yang mereka ketahui pun merupakan nama daerah yang mungkin hanya dikenal di daerah tertentu saja.

Selesai materi bukan berarti selesai juga keceriaannya. Sebelum bubar, anak-anak diminta menulis dulu ucapan “Selamat Hari Buku Nasional” dan sempat foto bersama. Meskipun telat, tapi kan lebih baik telat daripada tidak sama sekali.

Terakhir, kita sempet juga main “kereta api”. Dan seiring barisan “kereta api” keluar dari pintu, kelas tadi pagi pun berakhir.

Sebelum pulang, saya sempet “ngobrol” sama beberapa anak. Ada satu anak yang menarik perhatian saya. Nama panggilanya entik (saya lupa lagi nama panjangnya). Dari awal saya liat dia termasuk yang pendiam dan cukup susah diajak komunikasi. Hm, usut punya usut dia juga ternyata masih belum bisa membaca, dan harus mengulang kembali di kelas satu SD, padahal seharusnya dia sudah kelas dua tahun ini. Ya semoga saja dengan adanya “sekolah pesisir” setiap hari minggu, bisa membantu meningkatkan kemampuannya dalam membaca atau yang lainnya. (Aamiin…)

Oh iya, FYI kelas tadi pagi juga diliput oleh teman-teman dari Kompas TV.  Semoga saja hasil rekamannya lolos dan bisa tayang ya. :)

Hm, waktu 2 jam kayaknya terlalu sebentar untuk mengisi kelas tadi pagi. Keceriaan dan kegembiraan yang hadir cukup membuat waktu dan rasa lapar (karena belum sarapan) pun dapat dihiraukan. Jadi ga sabar buat kelas minggu depan. Sesuai rencana, minggu depan kita bakalan ngisi tentang “handmade”. Semoga saja nanti bisa ikut lagi dan merasakan keceriaan dan kegembiraan (lagi).
jit pijit-pijit

"tangan kanan kedepan.."

8 Mei 2015

Menjemput Takdir...



Menjemput Takdir Menjadi Poros Maritim Dunia
Fawaz Muhammad Sidiqi, Universitas Diponegoro
(10 besar esai LPM Edents FEB Undip)
 
“Indonesia bukanlah negara maritim, Indonesia hanyalah negara kepulauan yang bercita-cita ingin menjadi negara maritim…”[1]
Sebutan bahwa Indonesia merupakan negara maritim nampaknya perlu dipertanyakan.  Indonesia yang memiliki luas laut sekitar 5,8 juta km2, terdiri dari 2,3 juta km2 perairan kepulauan, 0,8 km2 perairan territorial dan 2,7 km2 perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI)[2], pada kenyataannya masih tidak berdaya dalam memenuhi kebutuhan ikan, garam dan hasil produksi laut lainnya secara mandiri.
Permasalahan lain seperti konflik bilateral dengan negara tetangga terkait sengketa pulau, pencurian ikan di beberapa wilayah ZEEI oleh nelayan asing dan belum mampu bersaingnya ikan hasil tangkapan nelayan lokal dengan ikan hasil impor menjadi sedikit dari banyaknya permasalahan yang mengganjal dalam mewujudkan visi menjadi poros maritim dunia. Sebuah konsep besar yang dibangun dari mimpi dan harapan, serta kesadaran terhadap potensi yang dimiliki negeri ini. Pertanyaannya, akankah hal tersebut terwujud?

Problematika Kelautan dan Perikanan Indonesia
Salah satu problematika kebaharian di Indonesia yang masih belum dapat diselesaikan hingga saat ini, ialah rendahnya produktivitas perikanan nasional. Pada tahun 2007 saja, produktivitas perikanan tangkap di Indonesia mengalami penurunan sebesar 4,55 persen, padahal pada periode tersebut kapal-kapal serta teknologi yang digunakan lebih maju dibandingkan sebelumnya. [3] Rendahnya produktivitas perikanan ini dapat dilihat juga dari rendahnya pencapaian produksi ikan nasional serta nilai ekspor pada era pemerintahan sebelumnya. Periode pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I misalnya, seakan menggenapi kegagalan dari era sebelumnya, dimana program Revitalisasi Kelautan dan Perikanan produksi ikan nasional yang digagas hanya mampu mencapai kurang dari 7 ton dari target 9,7 juta ton dan nilai ekspor sebesar 2,1 milyar $ US dari target sebesar 5 milyar $ US.[4]
source : http://garudamiliter.blogspot.com
Permasalahan lain yang harus segera diselesaikan ialah keamanan laut. Dampak dari masih rendahnya keamanan laut ini ialah masih banyaknya kegiatan illegal fishing oleh kapal-kapal asing. Pada tahun 2010 misalnya, jumlah kapal pencuri ikan yang ditangkap sebanyak 116 kapal dengan total kerugian negara yang diselamatkan ialah sebesar Rp. 277,83 milyar. Kapal pencuri ikan tersebut berasal dari negara Malaysia, Vietnam, Thailand, RRC dan Philipina.[5]
Paradigma masyarakat yang masih berorientasi pada daratan (land oriented) menjadi permasalahan lain yang menjadi hambatan dalam mewujudkan negara poros maritim dunia. Salah satu bukti dari permasalahan ini ialah pengalokasian segenap sumberdaya pembangunan yang lebih diprioritaskan pada sektor-sektor daratan, hal ini tentu sangat kontradiktif dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara bahari, yaitu negara laut yang memiliki banyak pulau.[6]

Kebijakan Pemerintah dalam Mewujudkan Negara Poros Maritim Dunia
Langkah awal yang memperlihatkan keseriusan pemerintah untuk mewujudkan visi menjadi poros maritim dunia ialah dengan dibentuknya Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Empat poin penting yang menjadi fokus pengembangan bidang kemaritiman ialah : Kedaulatan, Sumberdaya Alam, Infrastruktur dan IPTEK (budaya maritim).
Kebijakan lain yang menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam mewujudkan negara poros maritim dunia ialah peningkatan kemanan laut dengan membentuk Badan Keamanan Laut (Bakamala).[7] Setelah Bakamala dibentuk, kebijakan lain guna meningkatkan keamanan laut pun diperkuat dengan menambah kapal patroli laut sebanyak 30 kapal.[8] Jumlah tersebut tentu akan meningkatkan luas wilayah patrol serta membuka kemungkinan ditangkapnya kapal pencuri ikan sebelum pencurian dilakukan.
Pembentukan Bakamala seakan melengkapi kebijakan yang telah direalisasikan sebelumnya, yaitu penenggelaman kapal asing yang melakukan pencurian ikan di wilayah ZEEI. Sejak Januari 2015 saja, sudah 22 kapal ditenggelamkan yang sebelumnya telah terbukti melakukan kegiatan Illegal Unreported Unregulated (IUU) Fishing di Perairan Indonesia. Jumlah tersebut diproyeksikan akan bertambah seiring bertambahnya kapal pencuri ikan yang tertangkap.[9]
Selain peneggelaman kapal, kebijakan lain yang telah dikeluarkan oleh pemerintah ialah apa yang terkandung dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 1 dan 2 Tahun 2015. Permen yang berisi larangan penangkapan Lobster, Kepiting dan Rajungan pada keadaan tertentu serta penggunaan pukat hela dan pukat tarik (Cantrang), menjadi salah satu bukti komitmen pemerintah dalam menjaga kelestarian Sumberdaya Alam Laut. 

Modal Besar
Potensi sumberdaya laut yang besar menjadi salah satu modal tersendiri untuk mewujudkan negara poros maritim dunia. Potensi tersebut tersebar dalam beberapa sektor, dari mulai Sumberdaya yang dapat diperbaharui (perikanan, hutan mangrove, terumbu karang), Sumberdaya tidak terbarukan (minyak bumi, gas, bahan tambang, mineral dan harta karun), Energi Kelautan (Pasang-surut, gelombang, Ocean Thermal Energy Conversion) dan Jasa-jasa Lingkungan (Pariwisata, perhubungan, kepelabuhan dan penampung limbah)[10].
Selain itu, lima aspek penting yang perlu dikembangkan sebagai kunci dari terwujudnya negara poros maritim dunia ialah : Penumbuhan jiwa bahari (dengan memasukan pendidikan kelautan dalam kurikulum pendidikan nasional), Penegakan kedaulatan yang nyata di laut, Pembangunan industri maritim, Penataan ruang wilayah maritim dan Pengembangan sistem hukum maritim.   
Kekayaan sumberdaya kelautan yang besar tersebut pada akhirnya hanya akan menjadi potensi, jika kebijakan yang pemerintah ambil tidak sejalan dengan pengembangan dan pemanfaatan pada bidang kelautan. Problematika kelautan merupakan permasalahan yang multikompleks, sehingga penyelesaiannya pun memerlukan kolaborasi dari semua pihak yang berkepentingan. Komitmen dan aksi nyata serta kolaborasi dari semua pihak, pada akhirnya akan membuat visi sebagai negara poros maritim dunia dapat benar-benar terwujud. Semoga saja.


[1] Lutfi Mustafa. 2010. Revitalisasi Paradigma Kebijakan Pembangunan Sektor Kelautan (Ocean Oriented Policy). Jurnal Transisi 6 (2) : 45-61.
[2] Suhana. 2010. Redesain Kebijakan Ekonomi Kelautan dan Perikanan untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Suberdaya. Jurnal Transisi 6(2):1-28.
[3] Ibid
[4] Ibid
[5] Ibid
[6] Lutfi Mustafa. 2010. Revitalisasi Paradigma Kebijakan Pembangunan Sektor Kelautan (Ocean Oriented Policy). Jurnal Transisi 6 (2) : 45-61.
[7] Iqbal Anwar. 2015. “Menko Maritim : Inpres Penanganan Illegal Fishing Segera Dikeluarkan Presiden” [Online], Tersedia http://jurnalmaritim.com/2015/01/menko-maritim-inpres-penanganan-illegal-fishing-segera-dikeluarkan-presiden/ diakses pada 24/4/2015 pukul 20.00 WIB
[8] Prasetyo Anom. 2015. “Bakamala Tambah 30 Kapal Patroli” [Online], Tersedia http://jurnalmaritim.com/2015/02/bakamla-tambah-30-kapal-patroli/ diakses pada 24/4/2015 pukul 20.10 WIB
[9] Redaksi. 2015. “KKP Tenggelamkan 22 Kapal Pencuri Ikan” [Online], Tersedia http://jurnalmaritim.com/2015/03/kkp-tenggelamkan-22-kapal-pencuri-ikan/ diakses pada 24/4/2015 pukul 20.05 WIB
[10] Rachmad K. 2010. Masyarakat Pesisir dalam Ancaman Global Warming. Jurnal Transisi. 6(2) : 29-44.

26 November 2014

Dinophysis caudata



Dinoflagellata Penyebab Harmfull Algae Blooms (HABs) : Dinophysis caudata
Fawaz Muhammad Sidiqi I 26020113130084
Ilmu Kelautan B, Universitas Diponegoro

            Plankton merupakan tumbuhan atau hewan laut yang hidupnya melayang, mengapung dan mengambang di dalam air yang kemampuan renangnya kalupun ada sangat terbatas dan dipengaruhi oleh arus. Berdasarkan fungsinya, plankton dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu Fitoplankton, Zooplankton, Bakterioplankton dan Vibrioplankton (Nontji A, 2008).

   Fitoplankton merupakan organisme-tumbuhan mikroskopik yang hidup melayang, mengapung di dalam air dan memiliki gerak yang terbatas. Suatu komunitas fitoplankton biasanya didominasi oleh jenis fitoplankton yang memiliki ukuran lebih kecil dari 10 μm2. Perbandingan nutrien, terutama nitrogen, fofor dan silikat terlarut dan zooplankton merupakan beberapa hal yang menentukan dominasi suatu fitoplankton (Garno YS, 2008). Fitoplankton terdiri dari lima kelas yaitu Bacillarophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Euglenophyceae, Pyrrhophyceae, sedangkan zooplankton terdiri dari tiga kelas, yaitu Rhizopoda, Rotifera dan Crustacea (Amanta, R et al. 2012).

Harmfull Algae Blooms (HABs)
Harmfull Algae Blooms atau sering disingkat HAB merupakan fenomena dimana mikroalga tumbuh secara sangat lebat di laut ataupun di perairan payau, yang menyebabkan kematian pada ikan secara masal, karena memiliki racun (toxin) yang dapat mengkontaminasi makanan bahari dan juga dipersepsikan sebagai pengganggu ekosistem (harmful). HAB merupakan istilah lain yang digunakan untuk menyatakan fenomena redtide di suatu perairan (Kurniawan G, 2008). Beberapa spesies yang dapat menyebabkan HAB ialah Ceratium fucus, Ceratium tripos dan Dinophysis caudata (Aunurohim et al., 2008).

Dinophysis caudata
            Dinophysis caudata merupakan salah satu spesies yang termasuk ke dalam kelas Dinophyceae. Berdasarkan data monitoring Dinas Kelautan dan Perikanan tahun 2006, spesies Dinophysis caudate termasuk dalam spesies yang berpotensi menyebabkan HAB tepatnya di perairan Sidoarjo. Selain itu, spesies ini juga merupakan spesies yang bersifat toksik dari kelompok dinoflagellata.

Klasifikasi Dinophysis caudata ialah sebagai berikut :
Kingdom         : Protista
Divisi               : Dinophyta
Kelas               : Dinophyceae
Ordo                : Dinophysiales
Genus              : Dinophysis
Spesies            : Dinophysis caudata



Figure 1. Dinophysis caudata, living cell
Figure 2. D. caudata, scanning electron microscope (SEM) image.

D. caudata memiliki ukuran panjang antara 70 sampai dengan 170 µm dan lebar 37 sampai dengan 50 µm. Dinophysis caudate merupakan dinoflgellata yang uniseluler thecate dengan bentuk sel yang laterally compressed, memiliki bentuk hypotheca yang besar dan epitheca yang kecil. Umumnya memiliki 19 plates, mayoritas terdiri atas empat plates pada hypotheca, enam plates pada epitheca, empat plates pada cingulum dan lima plates pada sulcus. Selain pada hypotheca, di semua tempat plates ini tidak terlihat.

Pada bagian cingulum dan sulcus terdapat ekstensi yang transparan di kedua sisi yang disebut lists, yang berukuran lebih kecil di bagian cingulum dan berkembang di bagian sulcus. Sulcal lists umumnya memiliki tiga buah ribs dan sulcal list bagian kiri memiliki ukuran yang terbesar dibandingkan dengan yang lain. Sulcal lists merupakan salah satu bagian identifikasi pada tahapan genus. Sedangkan anterior cingular lists, berbentuk sorong dan merupakan tempat disembunyikannya ephiteca dalam pandangan lateral view pada suatu sel.

Bagian yang memiliki ukuran paling lebar biasanya berada pada bagian tengah, atau pada bagian ketiga dari sulcal list. Bagian dorsal dari selnya berbentuk cembung, sedangkan bagian ventralnya berbentuk lurus. Secara garis besar, morfologi dari D. caudata memiliki variabel yang bervariasi. Setidaknya terdapat 12 variasi dan bentuk yang berbeda yang telah dideskripsikan dari berbagai tingkatan variasi validitas dan juga taksonomi. Berbagai jenis variasi terkarakterisasi dengan panjangnya ukuran finger, seperti posterior extension yang berakhir dengan ujung yang runcing. 

Habitat dan Distribusi
Dinophysis caudata merupakan spesies yang ditemukan hampir di seluruh bagian bumi baik di daerah tropis maupun di daerah subtropis, kebanyakan berada di daerah estuarin dan perairan pantai. Namun bisa jadi spesies ini ditemukan di luar perairan hangat misalnya di perairan Norwegia, karena pengaruh transportasi arus.

Reproduksi
Secara umum, fitoplankton dapat bereproduksi secara seksual dan asesksual. Hanya saja, kelimpahan spesies mayoritas disebabkan oleh reproduksi secara seksual, karena ketika pengopian DNA dilakukan oleh induk kepada anak, maka hasil dari pengopian tersebut dapat diteruskan oleh sang anak kepada keturunan selanjutnya melalui pengopian DNA juga (Kurniawan G, 2008).
Menurut Reguera dan coworker (2007) perbedaan secara morfologi dari D. diegensis merupakan fase dimorphic sexual dari D. caudata. Selain itu, beberapa  juga menjelaskan bahwa morfologi dari spesies D. caudata merupakan salah satu tahapan dalam siklus hidup, sehingga dapat menjelaskan mengenai variabilitas morfologi. 

Toksisitas
D. caudata merupakan spesies yang bersifat toksik, bahkan beberapa strain dapat meneghasilkan dinophysistoxin, PTX-2 (pectenotoxin) atau asam okadaic, yang semuanya dapat berpotensi sebagai Diarrhetic Shelllfish Poisioning (DSP) pada manusia dan juga dapat membunuh ikan besar.



Daftar Pustaka
Amanta, R., Hasan, Z., Rosidah. 2012. Struktur Komunitas Plankton di Situ Patengan Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 3(3) : 193-200.
Aunurohim., Saptarini, D., Yanthi, D. 2008. Fitoplankton penyebab Harmful Algae Blooms (HABs) di Perairan Sidoarjo. Biologi FMIPA. Institut Teknologi Sepuluh Nopember; Surabaya.
Garno YS. 2011. Kualitas Air dan Dinamika Fitoplankton di Perairan Pulau Harapan. Jurnal Hidrosfir Indonesia. 3(2) : 87-94.
Nontji, A. 2008. Plankton Laut. LIPI Press; Jakarta
Kurniawan, G. 2008. Dalam skripsinya : Studi Ekologi Kista Dinoflagellata Spesies Penyebab HAB (Harmful Algae Bloom) di Sedimen pada Perairan Teluk Jakarta. Insitut Pertanian Bogor; Bogor.

Website :