Pages

Labels

slide

6 Februari 2013

ADM

Anak Daerah yang Menyejarah
Terlahir dari sebuah keluarga yang “terpandang” di suatu kabupaten, yang memiliki luas wilayah tidak lebih dari 300 Ha, di daerah selatan Jawa Barat, Acep Zamzam Noor membuktikan bahwa orang daerah pun bisa membuat sejarah. 
Acep Zamzam Noor lahir pada tahun-tahun akhir kepengurusan Kabinet Soekarno, tepatnya pada tanggal 28 Februari 1960. Ayahnya ialah K.H Ilyas Ruhiyat, seorang ulama kharismatik di Pondok Pesantren Cipasung dan Ibunya ialah Euis Nurhayati dan dikaruniai lima orang anak dengan Acep Zamzam Noor sebagai anak tertua.
Beliau menghabiskan masa kecilnya di pondok pesantren. Selain di Pondok Pesantren Cipasung, beliau juga menimba ilmu di Pondok Pesantren Asy Syafi’iah, Jakarta, dan menamatkan jenjang SLTA di sana. Kemudian melanjutkan kuliah ke Fakultas Senirupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (1980-1987). Sebelum menerima beasiswa dari Pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia, Italia. (1991-1993)
Banyak sekali prestasi yang telah dicapai putra asli Sunda ini, baik tingkat nasional maupun Internasional. Beberapa prestasi yang pernah diterimanya ialah, Beberapa kali mendapat Hadiah Sastra LBSS (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda) untuk puisi Sunda terbaik. Kumpulan puisinya, Di Luar Kata, meraih Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Sedang kumpulan puisi Jalan Menuju Rumahmu selain mendapat Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2005 dari Pusat Bahasa, juga mendapat South East Asian (SEA) Write Award 2005 dari Kerajaan Thailand. Mendapat Anugerah Budaya 2006 dari Gubernur Jawa Barat. Mendapat Anugerah Kebudayaan (Medali Emas) 2007 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI. Kumpulan puisinya, Menjadi Penyair Lagi, meraih Khatulistiwa Literary Award 2006-2007. Namanya termuat dalam Ensiklopedi Sunda dan Apa Siapa Orang Sunda susunan Ajip Rosidi.Selain itu, beliau juga pernah memenangkan berbagai macam penghargaan, diantaranya penulisan Karya Sastra Depdiknas (2000), South East Asian (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (2005) dan Khatulistiwa Literary Award (2007).
Puisi-puisinya tersebar di berbagai media massa terbitan daerah dan ibukota. Juga di Majalah Sastra Horison, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Ulumul Qur’an, Jurnal Puisi serta Jurnal Puisi Melayu Perisa dan Dewan Sastra (Malaysia). Sebagian puisinya sudah dikumpulkan antara lain dalam Di Luar Kata (Pustaka Firdaus, 1996), Di Atas Umbria (Indonesia Tera, 1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (Aksara Indonesia, 2001), Jalan Menuju Rumahmu (Grasindo, 2004), Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007) serta sebuah kumpulan puisi Sunda Dayeuh Matapoe (Geger Sunten, 1993) yang menjadi nominator Hadiah Rancage 1994.
Selain diterbitkan dalam bentuk buku dan jurnal, karya-karya Beliau pun telah banyak dimuat dalam antologi-antologi penting dan beberapa karyanya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Portugal dan Arab.
Istimewanya, Beliau tetap mempertahankan identitasnya sebagai seorang putra sunda dengan membuat puisi-puisi dalam basa Sunda. Bahkan, beberapa puisi dalam basa sundanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Ajip Rosidi dan Mukherjee.
Kehidupan masa kecil dan remajanya, yang dihabiskan di lingkungan pesantren, membuat karakternya sebagai seorang muslim begitu kuat. Ditengah tantangan zaman Orde baru yang bersikap durjana terhadap kegiatan yang bersangkutan dengan masalah agama khsusnya islam, Beliau tetap berani memperlihatkan identitasnya selaku seorang muslim.
Maka dari itu, pantaslah masyarakat Sunda bangga memiliki seorang Acep Zamzam Noor, putra asli Sunda yang telah mampu merubah paradigma kita, bahwa ternyata orang Daerah (pun) bisa membuat sejarah.
Cinta Daerah, Religius dan “Lurus”
Acep Zamzam Noor merupakan sosok sastrawan yang sangat peduli dengan tanah kelahirannya. Pernyataan ini bukan tanpa alasan, memiliki potensi untuk dapat menjadi seorang sastrawan yang populer dan merasakan “syurganya” popularitas dan harta di Ibu kota negara, namun Beliau memilih untuk tetap menjadi warga daerah dan mengembangkan kesenian dan kebudayaan di daerah tempat kelahirannya.
Kepedulian Acep Zamzam Noor terhadap kesenian dan kebudayaan di daerahnya atau di Kota Tasikmalaya, dapat dibuktikan dengan didirikanya Sanggar Seni Tasik (SST) dan komunitas azan.
Mendirikan sebuah sanggar di kampung yang berjarak 15 km dari pusat kota Tasikmalaya bukanlah suatu strategi yang baik, jika memang popularitas dan materi yang dicari. Bahkan, kalau pun memang mendirikan sanggar di pusat kota Tasikmalaya sendiri, sepertinya akan lebih masuk akal mendirikan sanggar di Ibukota negara atau ibuota provinsi, jika sekali lagi yang dicari adalah harta dan popularitas.
“Agar lebih memasarakat dan tidak elitis, maka kesenian harus bisa memahami dan dipahami masyarakat. Kesenian harus diakrabkan dengan masyarakat. Dan sebaliknya masyarakat harus belajar mengapresiasi kesenian. Menjalankan konsep ini jelas sangat berat, baik dari segi tenaga maupun pendanaan. Belum lagi harus menciptakan ‘mujahid-mujahid’ kesenian baru yang bisa membantu menjalankan kegiatan di wilayah baru ini.”
Pernyataan tersebut yang menjadi latar belakang mengapa beliau mendirikan Sanggar Seni Tasik (SST). Kekhawatiran Beliau mengenai kesenian yang sudah dianggap elitis, berusaha Beliau selesaikan dengan mendirikan SST.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan SST telah membuat suatu kemajuan yang nyata bagi dunia kesenian di Kota Tasikmalaya. Kegiatan SST yang positif dan tidak sporadis, telah memaksa pemda untuk membuat Gedung Kesenian Tasik, sebagai salah satu bentuk nyata kepedulian pemda terhadap dunia kesenian di Kota Tasikmalaya.
Kesuksesan SST tidak membuat Acep Zamzam Noor berhenti untuk memberikan inovasi bagi kesenian dan kebudayaan di Tasikmalaya. Sebagai salah satu inovasi dalam meningkatkan kesenian dan kebudayaan di Tasikmalaya, Beliau mendirikan komunitas azan. Dengan berdirinya komunitas azan yang menjadi suatu wadah berkumpulnya seniman, publik seni dan masyarakat umum, membuat kegiatan kesenian dan kebudayaan di Tasikmalaya menunjukan suatu peningkatan yang baik.
Selain sebagai seorang satrawan dan peduli terhadap kesenian dan kebudayaan di daerahnya, Acep Zamzam Noor juga merupakan seseorang yang religius dan memiliki itikad dan paradigma yang “lurus”.
Kehidupannya yang sangat erat dengan dunia pesantren, telah membuat Acep Zamzam Noor memiliki jiwa religius yang tinggi sebagai seorang muslim. Dalam beberapa karyanya pun, terlihat sekali kepribadiannya sebagai seorang muslim yang baik. Misalnya dalam puisinya yang berjudul sepotong senja, terdapat beberapa bait yang menggambarkan kemuslimannya.
Di terowongan-terowongan kota Mekkah
Aku tidak menulis apa-apa, juga tidak melukis siapa-siapa
Di gurun-gurun pasir yang garang, di bukit-bukit batu
Aku tidak meratap atau menyanyi, hanya sekedar membaca sunyi
Aku bukanlah Bilal yang nyaring mengumandangkan azan
Juga bukan Hamzah yang lantang di garis paling depan
Bukan siapa-siapa. Kepenyairan hanya berlangsung dalam hatiku
Dan aku terus berlari dengan sepotong senja yang kauberikan.
Kereligiusan seorang Acep Zamzam Noor semakin sempurna, dengan kepeduliannya terhadap keadaan masyarakat di sekitarnya dan kelurusan pemikirannya. Kepeduliannya dan kelurusan tersebut direalisasikan dengan membentuk Partai Nurul Sembako (PNS).
Jika tujuannya dalam mendirikan partai ialah mencari kekuasaan, memenangkan pemilu dengan menghalalkan segala cara, maka mendirikan sebuah partai dengan kegiatan utama mengkritisi partai-partai resmi perilaku para politisi dan broker politik, kebijakan pemda serta upaya politisasi agama yang cenderung diskriminatif di Tasikmalaya bukanlah langkah yang baik. Maka dari itu, Partai Nurul Sembako (PNS) diadakan sebagai partai “tandingan” bagi partai-partai resmi dan pegawai pemerintahan yang bertindak “kotor”.
Saya kemudian menamai kegiatan ini sebagai ‘Pengajian Budaya’. Istilah pengajian diambil karena mudah dipahami dan cukup memasyarakat, baik di kota maupun di pedesaan. Istilah ini juga mempunyai pengertian yang sangat luas. Bukan hanya mengaji agama, tapi juga mengaji kesadaran, mengaji diri, mengaji hati nurani, mengaji kehidupan, mengaji kesenian, mengaji budaya. Lebih jauhnya lagi mengaji toleransi terhadap berbagai keragaman yang terdapat di tengah masyarakat.
Selain memberikan pencerahan, kegiatan “Pengajian Budaya” juga akan merangsang kreatifitas masyarakat. Setiap orang pasti mempunyai potensi dalam dirinya. Potensi masyarakat inilah yang harus digali. Setelah berbagai pementasan digelar di Cipasung, kini di kampung-kampung sekitar banyak muncul kelompok-kelompok kesenian baik musik, teater maupun sastra. Begitu juga di tempat-tempat lain. Sebelumnya kesenian yang hidup di wilayah ini hanyalah sebatas seni kasidahan atau dorban.”
Dari potongan tulisannya di atas, dapat digambarkan bagaimana kepribadian seorang Acep Zamzam Noor, seorang seniman yang bukan hanya mampu membuat suatu karya yang memotivasi atau hanya untuk berkontemplasi, tapi juga dapat menggerakan, bahkan bergerak dengan niat yang lurus untuk memajukan daerah. Bukan tanpa alasan, karena jika kita mampu mengembangkan potensi masyarakat yang ada di daerahnya, maka kemajuan bangsa secara menyeluruhpun dapat tercapai. Agaknya hal ini perlu disadari oleh setiap insan Indonesia, agar tidak hanya memperkaya diri tapi juga memberdayakan dan memajukan daerah sebagai langkah awal memajukan bangsa Indonesia.




Daftar Pustaka
http//id.wikipedia.org/Acep_Zamzam_Noor
Acep, Zamzam Noor.2004. Pengajian Budaya. [online], Tersedia http://seni-acepzamzamnoor.blogspot.com
Luqman.2011. Puisi Acep Zamzam Noor – Sepotong Senja. [online], Tersedia http://www.luqmansastra.com/2011/01/puisi-acep-zamzam-noor-sepotong-senja.html. [11 Januari 201].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar