Pages

Labels

slide

2 Agustus 2013

Ketika Kemenangan justru menjadi Sebuah Ujian

Ketika Kemenangan justru menjadi Sebuah Ujian

“kemenangan (kesuksesan) adalah ujian yang paling berat” KH. Abdullah Gymnastiar

source : http://yessiskyura.blogspot.com/2011/06/succes.html
Menang atau sukses, adalah harapan kita semua. Kedua hal ini bersifat subjektif dan relative, tergantung persepsi masing-masing orang. Namun pada dasarnya, kemenangan atau kesuksesan, identik dengan tercapainya harapan atau cita-cita.
Hanya saja, sudah menjadi sunatullah, dalam hidup ini kita tidak selamanya dapat meraih sukses ataupun mewujudkan apa yang kita inginkan. Karena “Bunga pun tak selamanya mekar, mentari pun terkadang tidak terlihat sinarnya, bahkan terkadang hujan pun tidak turun ketika tanah sudah sangat gersang”. Intinya, tidak Semuanya selalu dan harus seperti apa yang kita inginkan.
Meskipun demikian, bukan berarti juga sukses atau menang itu suatu hal yang absurd, suatu saat apa yang kita inginkan bisa saja terwujud (dengan izin Allah tentunya). Namun permasalahan selanjutnya ialah bagaimana sikap kita menghadapi kemenangan atau kesuksesan tersebut. Justru tidak jarang, setelah mendapatkan apa yang diharapkannya, seseorang merasa aman dan nyaman yang pada akhirnya mengakbatkan dia lalai dari hak dan kewajibannya selaku seorang khalifah dan ‘abid di bumi ini.
Maka benar apa yang dikatakan oleh AA Gym yang telah disebutkan di atas. Kemenangan itu sebenarnya ujian yang sesungguhnya bagi kita. Karena seringkali semangat, ketekunan dan kesungguh-sungguhan itu ada dalam diri kita, ketika kita gagal dan tetap mencoba untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Namun, setelah kita mendapatkan apa yang kita inginkan, semangat, ketekunan dan kesungguh-sungguhan tersebut justru hilang dari kita. Misalnya, ketika kita ingin lulus ujian, kita begitu rajin belajar dan melakukan kebaikan-kebaikan yang dapat menjadi wasilah lulusnya kita dalam ujian. Namun setelah kita lulus, semangat untuk belajar dan kebaikan - kebaikan itu pun kita tinggalkan. Bahkan terkadang karena merasa sudah bebas, kita menjadi malas.
Namun, hal tersebut bukanlah suatu hal yang pasti atau mengikat. Hanya sebuah kebiasaan dan atau paradigma yang bisa saja diubah jika memang ada kemauan dan usaha untuk mengubahnya. Ya, sebagaimana firman Allah swt., dalam surat Ar-Raddu ayat 11 “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”.
Salah satu kuncinya ialah istiqomah atau dalam istilah lainnya ialah berkomitmen. Istiqomah untuk  tetap semangat, istiqomah dengan apa yang telah kita tekadkan sebelumnya dan istiqomah dalam kebaikan yang telah kita lakukan sebelum kita meraih apa yang kita harapkan.
Mengapa harus demikian? Karena tahapan yang terpenting setelah kita meraih kemenangan atau kesuksesan, ialah bagaimana kita dapat mempertahankan bahkan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah kita dapatkan.
Selain istioqmah, fokus atau khusyu’ menjadi hal yang terpenting lainnya. Bagaimana kita fokus dengan usaha kita, fokus dengan harapan ataupun cita-cita kita selanjutnya dan fokus pada diri kita dengan tidak selalu menghiraukan persepri orang terhadap kita. Lebih jauhnya lagi, kita tetap fokus pada keridhoan Allah swt.
Dengan senantiasa berkomitmen (istiqomah) untuk tetap berada dalam kebaikan apapun yang terjadi dengan kita dan fokus pada keridhoan Allah swt., bukan saja kemenangan (kesuksesan) di dunia yang akan kita dapat, tapi juga kemenangan (kesuksesan) di akhirat, Insya-Allah bisa kita dapatkan. Wallahu ‘alam.

31 Juli 2013

Usaha dan Rezeki


 Tentang Usaha (Ikhtiar) dan Rezeki Kita di Dunia

"Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan)."  (QS. Ali-Imron : 25)

Ikhtiar (usaha) menjadi suatu kewajiba bahkan menjasi sunatullah (ketentuan) bagi semua makhluk di dunia ini untuk memenuhi kebutuhannya. Usaha tersebut tentunya berbeda-beda, tergantung kesanggupan dan kebutuhannya. Misalnya, ketika kita ingin membeli mobil, tentunya usaha kita akan berbeda, jika dibandingkan dengan teman kita yang mengnginkan motor.
Dalam kesempatan kali ini, penulis akan berusaha membagi pemahamannya mengenai usaha dan rezeki, dari pengalamannya yang berhubungan dengan kedua hal tersebut.
source : http://cbs-bogor.net/mencari-modal-bisnis/
Pertama, ialah usaha. Kita sebagai manusia diwajibkan untuk berusaha, tentunya dalam kebaikan. Bahkan sudah menjadi sunatullah, jika kita menginginkan sesuatu, maka kita harus berusaha terlebih dahulu sebelum mendapatkannya. Usaha disini bisa berarti bekerja, berpikir dan sebagainya. Yang jelas ada suatu hal yang kita kerjakan. Nah, bukankah jika kita menginginkan berada di ketinggian 100 anak tangga, maka kita harus melewati 100 anak tangga? Ya, memang demikian. Hanya saja, tidak selamanya rumus tersebut berlaku. Bisa saja ada hal lain yang dapat membuatnya lebih cepat dan lebih nyaman. Misalnya dengan menaiki helicopter. Hal tersebut tentunya sah-sah saja, jika tujuan kita hanya mencapai ketinggian 100 anak tangga.
Tapi, bukankah justru kita mendapatkan pahala salah satunya dari usaha kita dan bukan dari hasilnya? Bukankah Allah melihat usaha kita? Bukankah hanya Allah yang berhak menentukan hasil, sementara tugas kitalah berusaha mendapatkannya?
Saya kurang setuju, dengan cara-cara instan dalam mendapatkan sesuatu. Namun, bukan berarti dalam semua hal. Bukan berarti karena itu tidak baik. Ini hanya persepsi saya saja. Mengapa? Karena bagi saya, seorang itu dikatakan sukses bukan semata-mata karena dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
Misalnya, ada seseorang yang ingin membeli mobil dan rumah mewah. Dan beberapa minggu kemudian, orang tersebut dapat membeli mobil dan rumah mewah yang diimpikannya, dengan uang hasil mencuri.
Jika kita melihat pada hasil, maka dapat dikatakan orang tersebut sukses. Karena dia, mendapatkan apa yang dia harapkan. Namun, apakah cara yang digunakannya dapat dibenarkan dan dibolehkan? Tentu saja tidak. Karena uangnya pun bukan hak miliknya dan caranya pun melanggar hukum. Baik hukum Allah, maupun hukum negara. Jadi, apakah orang tersebut dapat dikatakan sukses?
Ada dua syarat utama kita dapat dikatakan sukses dalam kaidah islam. Pertama, hasil, dzat atau tujuan yang kita capai adalah baik dan sesuai dengan ketentuan Allah. Kedua, cara yang digunakannya juga baik dan sesuai dengan ketentuan Allah SWT.
Oleh karena itu, lebih baik kita berusaha lebih lama dan lebih keras juga cerdas tapi halal dan baik. Meskipun mungkin memerlukan waktu yang lebih lama dan bisa jadi hasilnya tidak lebih banyak daripada yang lain, justru karena kerja itulah kita akan mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah swt. Karena sesungguhnya susah, lama dan kecil sebenarnya hanya persepsi kita saja. Bisa jadi, orang lain justru menganggap sebaliknya.
Ingat, bukan berarti tidak boleh menggunakan cara atau jalan atau usaha yang lebih mudah, cepat dan nyaman. Jika memang sesuai dengan syari’at islam dan ketentuan yang telah Allah tentukan, maka sah-sah saja. Misalnya dengan meminjam atau mendapatkan warisan, dan sebagainya.

Kedua, masalah rezeki. Allah SWT, memberikan rezeki kepada manusia dari arah yang tidak diduga-duga dan bisa jadi dari sesuatu hal yang tidak kita sukai atau tidak bukan kemampuan kita. Rezeki di sini bukan hanya materil. Istri yang sholehah, kesehatan dan kemudahan dalam bekerja, merupakan beberapa contoh rezeki lainnya.
Selain itu, rezeki orang tentunya berbeda. Terlepas dari usaha yang dilakukannya, rezeki yang telah Allah karuniakan kepada manusia, tentunya berbeda satu sama lainnya. Misalnya, ada dua orang saudara kembar yang sejak kecil sekolah dan hidup pada lingkungan yang sama. Kemudian, keduanya juga dididik dengan cara yang sama juga dan dijaga dengan penjagaan yang sama juga. Namun, tentunya keduanya memiliki istri yang berbeda, kemudian gaji nya pun bisa jadi berbeda, dan anak-anaknya pun berbeda.
Atau bisa jadi, ada dua orang yang bekerja pada perusahaan yang sama, kemudian bekerja dengan jam yang sama dan istirahat pada jam yang sama juga. Namun, keduanya memliki perbedaan gaji, karena berbeda jabatan.
Intinya, rezeki setiap orang itu berbeda. Kita tidak sepantasnya iri dengan apa yang didapatkan orang lain sedangkan kita tidak. Selalu ada hikmah dari setiap apapun yang Allah ciptakan. Kita hanya harus menysukuri dan menikmati apa yang Allah berikan. Karena insya-Allah, Allah akan memberikan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan kita. Bahkan jika kita sudah pandai bersyukur, maka kita akan mendapatkan hal yang lebih baik.
Terakhir, sebagaimana usaha tadi, rezeki pun memiliki dua syarat utama yang harus dipenuhi agar menjadi rezeki yang baik. Pertama, dzatnya baik dan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Kedua, cara mendapatkannya juga baik dan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Wallahu’alam bishshowab.



29 Juni 2013

Mengapa Kita Merasa Malas?

Mengapa Kita Merasa Malas?

Mengapa kita merasa malas? Mungkin karena kita sudah merasa pantas menjadi ahli syurga. Padahal, belum datang kepada kita bai’at atau pengakuan bahwa kita ahli syurga.

http://tipsorangsukses.blogspot.com
/2012/11/gapai-sukses-dengan-menghindari-malas.html
Mengapa kita merasa malas? Mungkin karena kita sudah merasa cukup dengan ibadah kita selama ini. Padahal belum tentu ibadah kita tersebut diterima dan belum tentu juga kita mendapat ridho Allah SWT dengan ibadah kita tersebut.

Mengapa kita merasa malas? Mungkin karena kita merasa siap menghadapi azab neraka. Padahal, tidak ada seorang pun yang dapat menahan azab neraka. Padahal seringan-ringannya azab neraka, dapat menghancurkan otak kita.

Mengapa kita merasa malas? Mungkin karena kita sudah merasa khusyu’ dalam sholat. Padahal, rasa malas itu sendiri menjadi bukti bahwa shalat kita tidak khusyu’. Bukankah sahalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Bukankah rasa mala situ merupakan salah satu dari perbuatan keji dan mungkar itu?

Mengapa kita merasa malas? Mungkin karena kita merasa sudah cukup dengan ilmu yang kita miliki. Padahal, masih sangat banyak ilmu yang tidak kita ketahui. Padahal, Allah SWT menyuruh kita untuk mencari ilmu sepanjang hayat kita.

Mengapa kita merasa malas? Mungkin kita merasa sudah cukup berguna bagi sesama. Padahal, masih banyak orang miskin, dan kekurangan di sekitar kita.

Mengapa kita merasa malas? Mungkin karena kita merasa negara ini sudah aman dan sejahtera. Padahal, rakyat miskin masih merajalela, pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, kelaparan dan tindakan menyimpang lainnya masih sering terjadi di negara ini.

Mengapa kita merasa malas? Mungkin karena kita merasa hidup di dunia ini akan abadi. Padahal, siapa yang menjamin esok hari kita masih hidup?

Mengapa kita merasa malas? Mungkin karena kita merasa bahwa dunia ini akan sama saja, bekerja atauoun tidaknya kita. Padahal, dunia ini menunggu dan membutuhkan aksi kita.

Mengapa kita merasa malas? Mungkin karena kita merasa wajar dengannya. Padahal, bukankah manusia sendiri dikaruniai kekuatan untuk menolak dan menghilangkannya ketika rasa malas itu datang?

Mengapa kita merasa malas? Mungkin kita merasa bahwa masalah yang kita miliki lebih banyak dibandingkan solusinya. Padahal, setiap satu masalah selalu ada dua solusi sebagaimana janji Allah SWT.


Mengapa kita merasa malas? Mungkin karena kita merasa lelah dan perlu beristirahat. Padahal, bukankah Imam Ahmad Sendiri pernah mengatakan bahwa dimulainya istirahat bagi seorang manusia ialah ketika dia sudah masuk ke dalam syurga?

Mengapa kita merasa malas? …

Akan tersedia banyak alasan lainnya, dan ada jawaban atas alasan tersebut, andai saja kita memikirkannya dan menyadarinya, hingga tangan ini lelah menuliskannya, hingga mata ini lelah membacanya, hingga pikiran ini lelah memikirkannya, hingga habis kertas dan pena menuliskannya, hingga Allah SWT. menyatakan waktu kita habis dan kiamat telah tiba. Wallahu’alam bishshowab.

Allahumma inni a’udzubika minalhammi wal hazani, wa a’udzubika minal ‘ajzi walkasail, wa a’uzdubika minal jubni wal bukhkli, wa a’udzubika gholabatiddaini waqohrirrijaali.
Ya Alllah sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih, aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas, aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.  

7 Juni 2013

Aksiomatis

Kau sering berkata padaku : "Aku cinta pada-mu"
Aku tanya : "apa yang membuat-mu berani mengatakan itu? dan mengapa?"
Lalu kau pun diam.

Dia sering berkata padaku : "Aku sayang pada-mu"
Aku tanya :  "lantas apa bukti sayang-mu itu? dan bagaimana?"
Lalu dia pun diam.

Tiba-tiba...
Ibuku berkata : "Ibu sayang pada-mu, nak"
Aku-pun diam.

12 Mei 2013

Sepenggal Hikmah


Karena kita hidup, maka hidipulah hidup ini dengan kehidupan bukan dengan kematian.
Karena kita hidup, maka kuatkanlah hidup ini dengan kekuatan bukan dengan kelemahan.
Karena kita hidup, maka indahkanlah hidup ini dengan keindahan bukan dengan keburukan.
Karena kita hidup, maka pahamilah hidup ini dengan ilmu bukan dengan nafsu.
Karena kita hidup, maka sibukanlah hidup ini dengan kebaikan bukan dengan keburukan.
Karena kita hidup, maka baguskanlah hidup ini dengan keikhlasan bukan dengan keriya’an.
Karena kita hiudp, maka sempurnakanlah hidup ini dengan keistiqomahan bukan dengan kefuturan.
Karena kita hidup, maka bangunlah hidup ini dengan hikmah bukan dengan amarah.
Karena kita hidup, maka serahkanlah hidup ini kepada Yang Maha Hidup.
Ya, Karena kita hidup…

5 April 2013

UNJ? Siapa Takut...




UN Jujur, Siapa Takut?
(dimuat dalam Surat Kabar Priangan edisi 9 april 2013 dalam rubrik sabasakola)



Ujian Nasional (UN) kembali menjadi topik perbincangan yang menarik bagi beberapa kalangan. Bukan hanya bagi para civitas pendidikan, sebagian masyarakat lainnya yang memiliki kepentingan, baik media massa maupun para pejabat pemerintah negeri ini pun tidak henti-hentinya memperbicangkan UN.
Di satu sisi, ada beberapa pihak yang tidak setuju dengan diadakannya UN. Salah satu alasannya ialah belum tercapainya pemerataan pendidikan di Indonesia. Namun di sisi lainnya, ada juga yang tetap setuju dengan dijalankannya UN ini. Karena dianggap sebagai suatu sarana evaluasi yang baik dan suatu ujian untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. “karena sistem pendidikan di Indonesia yang berjenjang, maka sudah seharusnya ada suatu ujian yang harus dilalui peserta didik, untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi” jelas Pak In In, wakasek Kurikulum SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya.
Bagi peserta didik, khususnya kelas 9 dan kelas 12, UN tahun ini menjadi teror tersendiri. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang menambah jumlah paket UN menjadi 30 paket dan memakai barcode, yang berarti setiap peserta didik tidak mengetahui kode soal yang diterimanya.
Bagi beberapa peserta didik yang memang telah berkomitmen untuk jujur dengan kemampuan pribadinya, hal ini justru menjadi suatu keuntungan, yang membuat mereka semakin percaya diri menghadapi UN. Namun, bagi beberapa peserta didik yang memiliki pemikiran negatif, hal ini menjadi suatu masalah yang sangat serius. Pasalnya, siasat-siasat negatif atau kesempatan untuk berprilaku curang pada UN kali ini semakin kecil.

8 Maret 2013

iman yang kuat dan taqwa yang hebat.


khutbah jum'at kali ini terasa  lebih istimewa. Dengan materi yg luar biasa mengenai iman yang kuat dan taqwa yang hebat, serta keberkahan yang harus selalu kita harapkan.

Iman yang kuat merupakan suatu ciri ketika kita sudah memiliki pendirian yang kuat tentang Ke-Esa-an Allah SWT. ketika kita sudah mampu memiliki keyakinan yang kuat tentang "laa ilaa ha illallah".

taqwa yang hebat merupakan akibat dari iman yang kuat. Jadi, ketika iman kita sudah hebat, maka ketaqwaan pun akan tercermin sebagai representasi dari keimanan kita tersebut.

kemudian, ada enam keberkahan yang harus selalu kita harapkan.
1. keberkahan dalam umur
2. Keberkahan dalam rezeki
3. Keberkahan dalam makanan
4. Keberkahan dalam keluarga
5. Keberkahan dalam Keturunan
6. Keberkahan dalam Anggota badan kita.

semoga keimanan dan ketaqwaan serta keberkahan, terlimpah kepada diri kita semua. aamiin