Pages

Labels

slide

7 Maret 2014

Jalan Menuju Syurga



Jalan Menuju Syurga
(kajian tentang keutamaan mencari ilmu agama bersama Dr. Arifin Basri, MA)

“…Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari suatu ilmu, maka Allah akan memudahkan untuknya jalan menuju kesyurga…” (Hadist Riwayat Muslim)

source : http://www.arifprasetyo.com/jalan-menuju-surga
Mencari ilmu atau yang dalam bahasa arabnya ialah thalabul ‘ilmi –terutama ilmu agama- menjadi salah satu hal yang diwajibkan bagi setiap muslim dan orang yang beriman di dunia ini. Bahkan lebih jauh lagi, mencari ilmu merupakan sebuah kebutuhan bagi siapa saja yang menghendaki dirinya menjadi seorang yang “berilmu” baik bagi muslim maupun bagi non-muslim. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selain menjadi sebuah kewajiban, mencari ilmu juga merupakan sebuah kebutuhan.

Diwajibkanya seorang muslim untuk mencari ilmu bukanlah hal yang tidak beralasan. Dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan juga hadist Nabi Muhammad sholallohu’alaihi wassalam, dijelaskan berbagai keutamaan yang akan didapat bagi para pencari ilmu. Salah satunya ialah potongan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radiallohu anhu’ yang telah dituliskan di atas.

Dalam hadist tersebut, Allah Subhanahu Wata’ala melalui lisan Rasulullah sholallohu ‘alaihiwassalam memberikan sebuah janji bagi siapa saja yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu agama, berupa kemudahan jalan menuju syurga.

Dalam kitab Riyadlushsholihin karangan Imam Nawawi, hadist tersebut terdapat pada Bab ke 29 tentang menyampaikan hajat-hajatnya kaum muslimin yang merupakan hadist ke-246 dan pada Bab ke 241 tentang Ilmu Pengetahuan yang merupakan hadist ke 1378.

Pada hadist yang ke-246, Imam Nawawi memberikan penjelasan mengenai hadist tersebut, bahwa :
Menempuh jalan artinya, baikpun berjalan betul-betul untuk mencari ilmu itu misalnya pergi ke sekolah, pondok, pesantren dan lain-lain atau mencari jalan semacam kiasan, misalnya belajar sendiri menelaah kitab-kitab agama dan lain-lain sebagainya.

Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Arifin Basri MA, hadist tentang keutamaan bagi siapa saja yang mencari ilmu tersebut bersifat umum. Umum disini jika dilihat dari kata-kata yang digunakan serta makna dari hadist tersebut.

Pertama, dilihat dari kata yang digunakan ialah “barang siapa yang menempuh suatu jalan”. Kata barangsiapa yang menempuh merupakan sebuah kata yang bersifat umum, karena berarti siapa saja yang mencari ilmu, baik dia miskin maupun kaya, muda ataupun tua, laki-laki ataupun wanita, termasuk ke dalam hadist tersebut.

Kedua, kata yang digunakan ialah “mencari suatu ilmu”. Hal ini merupakan sebuah kebijaksanaan dari Allah subhanahu wata’ala yang disampaikan melalui Rasul-Nya, bahwa yang disebutkan dalam hadist tersebut ialah yang mencari. Mengapa demikian, karena sudah menjadi sunatullah bahwa tidak semua yang mencari berarti juga berhasil mendapatkan.

Ketiga, hadist tersebut tidak lantas mengatakan “Barangsiapa yang mencari ilmu lalu mendapatkan ilmu tersebut…”. Hal ini memperkuat argumentasi yang kedua, bahwa yang termasuk dalam hadist tersebut adalah siapa saja yang mencari ilmu (agama) tersebut, baik setelahnya dia mendapatkan ilmu maupun tidak. Kemudian sebagai penegasan juga bahwa bukan kecerdasan yang menjadi standar dalam hadist tersebut, melainkan jalan atau usaha yang ditempuh dalam pencarian tersebut. Sehingga, tidak perlu menjadi seorang ‘alim ulama agar dapat termasuk dalam hadist tersebut. Tapi, siapapun yang mencari ilmu agama (meskipun pada akhirnya dia tidak menjadi seorang yang ‘alim) maka, dia termasuk ke dalam golongan yang dijanjikan kemudahan jalan menuju syurga.

Keempat, dalam hadist tersebut tidak dijelaskan berapa kali seseorang itu harus mencari ilmu agama. Hal ini berarti bahwa, meskipun seseorang hanya satu bulan sekali atau satu minggu sekali atau bahkan setiap hari mencari ilmu agama, semuanya termasuk ke dalam golongan hadist tersebut. Hanya saja, bagi yang lebih sering intensitas ataupun frekuensinya, tentunya memiliki kadar yang lebih besar juga dibandingkan yang kurang.

Kemudian, bagi siapa saja yang termasuk ke dalam golongan orang yang berada dalam jalan pencarian ilmu agama yang sudah dijelaskan di atas, Allah memberikan keutamaan berupa dimudahkannya jalan menuju syurga. Jalan menuju syurga itu tersendiri bersifat umum, karena tidak hanya syurga secara hakikatnya nanti ketika di akhirat, tapi juga “syurga” di dunia ini. Selain itu juga, pada dasarnya dalam beramal pun membutuhkan ilmu sebagai salah satu syarat diterimanya amal tersebut. Dengan adanya ilmu dan dibarengi dengan amalan yang kita lakukan, maka (atas rahmat Allah) jalan menuju syurga pun akan dimudahkan.
Mencari Ilmu Karena Allah
Dalam beberapa kasus, seringkali kita mencari ilmu dan harta hanya untuk kebahagiaan atau kenyamanan hidup di dunia saja. Jika kita ditanya mengapa kuliah ataupun mengapa kita bersekolah, mungkin salah satu jawabannya agar kelak kita bisa hidup layak di dunia ini.

Harapan tersebut tidaklah salah. Hanya saja mungkin kita perlu mengingat hadist Nabi mengenai kondisi tersebut yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit tersebut :

Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai puncak niatannya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran menghantui dirinya, sedangkan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan sekedar apa yang telah ditetapkan. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat itu niatnya, niscaya Allah menghimpunkan segala urusannya serta menciptakan rasa cukup dalam hatinya sementara dunia datang tunduk kepadanya dalam keadaan hina." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Sehingga sebaik-baiknya harapan ialah berharap mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat, sebagaimana do’a yang sangat sering kita ucapkan.

Terakhir mari kita dengarkan pesan dari Imam Syafi’I tentang kiat sukses memenangkan dunia dan akhirat. Semoga dengan pesan tersebut bisa kembali mengingatkan kita akan pentingnya thalabul ‘ilmi. wallaohu'alam
         
“Barangsiapa yang menginginkan kesuksesan di dunia, maka raihlah dengan ilmu. Barangsiapa yang  menginginkan kesuksesan di akhirat, maka raihlah dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan kesuksesan di dunia dan di akhirat, maka raihlah dengan ilmu.”
 






Daftar Pustaka

Imam,Nawawi. Kitab Riyadlushsholihin : Taman Orang-orang Sholeh. Hal 151-152 (Halaman pada Pdf/ tidak sesuai aslinya)
Tamam,B.2013. Bahaya Beramal Shalih untuk Mencari Dunia.[online], Tersedia http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2013/06/05/25018/bahaya-beramal-shalih-untuk-mencari-dunia/#sthash.BcNm0G8D.dpbs. [5 Juni 2013].

5 Maret 2014

Teorema Tukang Parkir

Teorema Tukang Parkir

Ada pelajaran menarik yang bisa kita ambil dari pekerjaan seorang tukang parkir. Sebelumnya, tulisan ini dibuat dengan tanpa ada maksud untuk mendiskreditkan pihak mana pun. Tulisan ini merupakan menyampaikan pandangan penulis mengenai pelajaran yang bisa diambil dari pekerjaan tukang parkir dan korelasinya dengan amanah yang diterima manusia di bumi ini.

sumber gambar : http://maramissetiawan.wordpress.com
Sudah bukan rahasia lagi, bahwa jika suatu tempat memiliki probabilitas “kedatangan” pengunjung yang banyak, di tempat itu juga (biasanya) akan ada satu atau beberapa orang yang berprofesi sebagai tukang parkir. Terlepas dari apakah mereka berasal dari sebuah instansi pemerintahan atau swasta yang bersifat legal, ataupun mereka bersifat independen tanpa ada ikatan dengan instansi apa pun.

Namun, dalam tulisan ini tidak akan dibahas permasalahan legal atau tidaknya pekerjaan tersebut, karena (sekali lagi) yang akan menjadi fokus materinya ialah esensi atau pelajaran yang dapat diambil dari pekerjaan tukang parkir tersebut dan korelasinya dengan amanah yang diterima manusia di bumi ini.

Teorema Satu : “Menjaga” untuk Mendapat Imbalan

Salah satu tugas utama dari seorang tukang parkir ialah menjaga kendaraan pengunjung, agar aman dan tertib selama diparkir. Aman berarti kendaraan pengunjung tersebut bebas dari sesuatu yang tidak diharapkan. Sementara tertib berarti kendaraan pengunjung tersebut tidak lantas menghalangi kendaraan pengunjung lainnya, atau juga berarti pengoptimalan lahan parkir yang terbatas.

Penjagaan tersebut menjadi salah satu alasan juga seseorang tukang parkir “berhak” menerima imbalan. Terlepas dari besarnya tarif imbalan tersebut, pengguna jasa tukang parkir memiliki hak membayar imbalan tersebut sesuai kesepakatan kedua belah pihak, yang menjadi ganti atas jasa yang diterimanya.

Jika dikorelasikan dengan kehidupan di dunia ini, maka analogi sederhana dari tukang parkir tersebut bisa menjadi pengingat akan tugas kita di dunia. Sebagai seorang makhluk yang memiliki hak yang istimewa dibandingkan dengan makhluk lainnya, manusia memiliki tugas untuk “menjaga” bumi ini.

Tugas penjagaan  yang diamanahkan kepada manusia tersebut bukanlah tanpa alasan. Selain karena hanya manusia yang dikaruniai akal, jasad dan ruh sekaligus, yang makhluk lain tidak memilikinya, tugas tersebut sudah menjadi ketentuan dan kesepakatan yang telah dibuat antara manusia dan Sang pencipta-nya sebelumnya. Maka dari itu, tugas penjagaan ini adalah tugas yang mulia yang “hanya” manusialah yang berhak mengembannya.

Kemudian, sebagaimana tukang parkir tadi, penjagaan terhadap alam ini nantinya akan mendapatkan “imbalan” juga. Imbalan tersebut disesuaikan dengan bagaimana kualitas penjagaan manusia terhadap amanah yang dimilikinya. Penjagaan yang baik tentunya akan berbuah imbalan yang baik juga. Tapi sebaliknya, penjagaan yang buruk - yang dengan kata lain berarti membuat kerusakan – akan berbuah imbalan yang buruk juga.

Hanya saja berbeda dengan penerima jasa parkir,  yang akan memberikan imbalan atas tugas penjagaan terhadap alam kelak adalah sebaik-baiknya pemberi imbalan, yang tidak akan bebuat tidak adil dan merugikan salah satu pihak. Karena yang memberikan imbalan tersebut ialah Allah Rabb semesta alam, Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui.

“Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-An’am : 165)

Teorema Kedua : Hanya “Menjaga” bukan Memiliki

Seperti yang telah disebutkan pad sub bab sebelumnya, salah satu tugas utama seorang tukang parkir ialah menjaga kendaraan pengunjung. Dengan demikian, maka dapat dikatakan selama pengunjung tersebut belum kembali untuk mengambil kendaraannya tersebut, kendaraan tersebut menjadi tanggung jawab tukang parkir yang bersangkutan. Dengan kata lain bahwa tukang parkir tersebut bukan diberikan hak untuk memiliki, tapi dititipi untuk dijaga sementara, yang nantinya titipan tersebut akan diambil kembali oleh yang memilikinya.

Kendaraan yang dititipi sang pemilik kendaraan tersebut, menjadi tanggung jawab tukang parkir untuk dijaga dan dipastikan keamanan dan ketertibannya. Sehingga ketika pemilik kendaraan mengambil kembali kendaraannya tersebut kelak, tidak ada protes ataupun keluhan dari sang pemilik kendaraan, karena kendaraannya masih dalam keadaan yang sama seperti semula.

Begitu juga dengan tugas manusia sebagai khalifah di bumi ini. Meskipun manusia memiliki hak istimewa sebagai “wakil” Allah di bumi untuk menjaga bumi ini, manusia tidak benar-benar memiliki alam ini. Manusia hanya diberikan hak untuk menjaga dan atau mengelola. Dengan kata lain, manusia hanya “dititipi” yang suatu saat akan diambil kembali oleh Pemiliknya yaitu Allah Rabb semesta alam.

Namun meskipun hanya sebagai titipan, bumi ini harus tetap dijaga dengan sebaik-baiknya sebagai salah satu tanggung jawab manusia. Sehingga ketika Allah mengambil kembali hak-Nya atas bumi ini, imbalan yang akan diterima oleh manusia -atas dasar penjagaan terhadap bumi- pun berupa kebaikan dan bukan sebaliknya.

“Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar” (QS Asy-Syuro : 4)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.  Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS Al-Zalzalah :7-8)

Terlalu sederhana memang analogi antara tukang parkir dengan tugas manusia sebagai khalifah di bumi ini. Bahkan mungkin terdapat kekeliruan, baik itu dalam penulisan maupun dalam isi dari tulisan tersebut. Hanya saja, semoga yang sederhana ini bisa mengingatkan kita akan tugas kita yang paling utama sebagai manusia di bumi ini. Selain itu juga, hal ini menjadi salah satu upaya implementasi dari amar ma’ruf nahyi mungkar dan hadist Nabi Sholallohu’alaihi Wassalam, Balighu anni walao ayah”.

Seperti halnya tukang parkir yang menjadi penjaga kendaran, ingatlah bahwa tugas kita sebagai manusia adalah sebagai seorang “penjaga” alam semesta ini. Karena kita hanya diberikan tugas dan hak untuk menjaga, maka kelak yang kita jaga tersebut akan diambil oleh pemiliknya - hanya orang yang bodoh yang merasa memiliki, apa yang sebenarnya tidak dia miliki dan tidak merasa senang ketika yang dirasa miliknya tersebut diambil oleh pemiliknya -. Dan sungguh, imbalan yang akan kita terima nanti pasti akan sesuai dengan bagaimana kualitas penjagaan kita terhadap amanah yang kita miliki, selain dari rahmat Allah tentunya. Wallohu’alam

28 Februari 2014

Membangun Komitmen

Membangun Komitmen


Sulit memang menjalani hidup dengan tanpa celah. Bahkan mungkin bisa dikatakan tidak mungkin. Hal ini tidak terlepas dari fluktuatifnya keimanan dan juga silih bergantinya kesulitan dan kebahagiaan. 

source : http://deasukata.blogspot.com
Namun, bukan berarti hal tersebut menjadi alasan untuk mewajarkan kegiatan negatif. Bagaimana pun, keburukan adalah sebuah keburukan dan kebaikan tetap menjadi kebaikan. Keduanya tidak akan pernah dapat menjadi satu.

Meskipun keimanan itu fluktuatif dan kesulitan dan kebahagiaan itu dirasakan silih berganti, kita tidak serta merta “diperbolehkan” melakukan kesalahan dengan sengaja.
Salah satu hal yang menjadi wasilah atau sebab fluktuatifnya iman tersebut ialah tidak adanya komitmen akan sesuatu yang telah kita tentukan dan tekadkan sebelumnya. Misalnya ketika kita bertaubat, kita bertekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama kembali, namun ternyata selang beberapa hari atau minggu atau bulan atau tahun, kita lakukan lagi dosa yang telah kita tekadkan untuk tidak dilakukan (lagi) tersebut. Maka diperlukan komitmen untuk senantiasa menjaga I’tkad yang telah kita buat.

Dalam kasus lainnya juga, komitmen merupakan sebab mengapa seseorang bisa dianggap baik. Misalnya seorang pejabat yang menolak mendapatkan gratifikasi karena berkomitmen untuk tetap menjaga diri dari perbuatan negative, setidaknya akan mendapatkan kesan baik, meskipun mungkin banyak yang akan membencinya juga.

Sederhananya, komitmen tersebut akan menguatkan diri kita untuk senantiasa memeprtahankan tekad atau niat yang telah kita tentukan sebelumnya. Dengan hadirnya komitmen, diri kita akan terpacu untuk berusaha tidak melanggar apa yang telah kita tekadkan untuk tidak dilakukan. Namun, jika tidak ada komitmen yang kuat dalam diri kita untuk menjaga kebaikan yang telah kita tekadkan dan lakukan sebelumnya, maka akan lebih mudah bagi kita melanggar dan tidak melaksanakan kebaikan tersebut.

Namun, seperti halnya kebaikan yang lain, terkadang tulisan terlalu sederhana dbandingkan dengan usaha perwujudannya. Begitu juga dengan komitmen, meskipun secara sadar kita mengetahui dan meyakini pentingnya berkomitmen dalam kebaikan, perwujudan dari komitmen tersebut bukanlah hal yang mudah. Hal inilah yang perlu kita waspadai bersama.

Kebaikan tetaplah kebaikan yang memerlukan usaha lebih untuk senantiasa melakukannya, karena kita tidak hanya “bermusuhan” dengan diri kita sendiri, namun juga makhluk lain yang senantiasa membujuk kita untuk berpaling. Hanya saja sudah menjadi tugas kita untuk memilih dan memutuskan hendak kemana kita akan memihak, apakah kita termasuk golongan yang berpaling atau justru kita termasuk golongan orang-orang beriman yang tetap berkomitmen pada kebaikan dan tidak akan berpaling, meskipun nyawa sebagai taruhannya? Wallahu’alam

8 Januari 2014

Great Leader(s)

Mengenai Pemimpin yang Baik
“Tak akan bisa jadi pemimpin yang baik, pemimpin yang cinta dunia dan diperbudak nafsu” SMS Tauhid-AA Gym
sumber gmbar : http://www.forbes.com
/sites/mikemyatt/2012/09/19/
every-great-leader-has-this-quality-do-you/
Deg. Tiba-tiba SMS tersebut masuk ketika saya sedang bermain game. Memang seringkali SMS tauhid yang dikelola oleh Daarut Tauhid (salah satu lembaga yang dimiliki oleh Kiyai Abdullah Gymnastiar atau lebih akrab dikenal AA Gym), datang pada saat yang tepat (untuk mengingatkan). Bahkan tidak jarang SMS tersebut datang sebagai jawaban atas sebuah permasalahan atau pertanyaan yang sedang saya hadapi. Ya, salah satunya SMS yang datang siang tadi, yang saya tuliskan di atas.
Ada beberapa hal yang membuat SMS tersebut begitu berkesan bagi saya. Pertama, SMS tersebut datang seakan menjadi sebuah pengingat bagi saya ketika saya sedang bermain game yang notabene sedang mengikuti hawa nafsu saya (jelas saja, karena pada saat itu sudah hampir lebih dari 2 jam saya main game tersebut). Kedua, isi dari SMS tersebut memiliki sebuah pernyataan secara langsung mengenai pemimpin yang baik. Ketiga, proximity (kedekatan atau keterkaitan) dari SMS tersebut meliputi semua manusia, karena dalam keterangan yang lain dikatakan bahwa setiap kita (manusia) adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kita pimpin, tentunya saya salah satunya. Intinya SMS tersebut begitu menyentuh saya ketika itu.
Pemimpin yang Baik
Oke, sekarang mari kita bahas pandangan saya mengenai esensi dari SMS tersebut. Seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa setiap manusia adalah pemimpin yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Sedangkan SMS tersebut memberikan penjelasan mengenai karakteristik pemimpin yang baik. Jika isi SMS tersebut dikorelasikan dengan keterangan bahwa setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dia pimpin tadi, maka pemimpin yang baik berarti pemimpin yang bisa mempertanggungjawabkan apa yang dia pimpin tersebut dengan baik juga. Intinya, pemimpin tersebut bertanggungjawab.
Kemudian tidak sampai disana. Dalam SMS tersebut juga, disebutkan dua karakteristik pemimpin yang baik. Pertama ialah tidak cinta dunia dan yang kedua ialah tidak diperbudak nafsu. Mari kita bahas satu-persatu.
Karakteristik pertama ialah tidak cinta dunia. Menurut pandangan saya, dunia disini bermaksud kehidupan kita sekarang dan segala yang ada dalam kehidupan ini, baik itu harta, jabatan maupun kenikmatan lainnya. Intinya, dunia tersebut bermakna kehidupan yang sedang kita jalani saat ini sampai kita mati kelak dan segala isinya, bisa berbentuk materi maupun non-materi.
Untuk menjelaskan karakteristik yang pertama ini, saya akan mengambil contoh kasus yang saat ini sering terjadi di sekitar kita yaitu tentang pejabat negara yang korupsi. Mengapa? Karena korupsi yang dilakukan oleh beberapa pejabat negara tersebut menggambarkan kecintaan nya pada dunia. Kecintaan nya pada dunia tersebut direpresentasikan dengan keinginannya untuk memiliki harta (materi) sebanyak mungkin. Padahal jika dihitung, gaji yang didapatkannya ditambah dengan biaya kompensasi yang diterimanya setiap hari, masih jauh lebih besar jika dibandingkan dengan gaji mayoritas masyarakat kita saat ini.
Lantas apa yang membuat mereka masih saja “mencuri” sesuatu yang bukan menjadi haknya? Tentulah hal ini kembali pada kecintaan nya pada dunia dan menganggap bahwa kenikmatan dunia adalah kenikmatan yang utama.
Jika kita lihat dan ingat kembali sejarah masa lalu, sudah banyak sekali contoh manusia-manusia yang karena kecintaan nya pada dunia menyebabkan dia menjadi menderita, baik ketika hidupnya, maupun ketika ajal hendak menjemputnya.
Kita mungkin masih ingat bagaimana kisah Qarun begitu melegenda dengan kisahnya yang menyimpan harta begitu banyak, namun akhirnya “tumbang” (melalui izin dan kehendak Allah) karena kecintaan nya pada harta (dunia) tersebut. Kemudian tentunya kita masih ingat bagaimana kekejaman fir’aun yang menganggap dirinya sebagai Tuhan, kemudian membunuh semua bayi laki-laki, karena menurut peramal yang dipercayainya ketika itu, tahta fir’aun (sebagai raja mesir ketika itu), akan direbut oleh seorang laki-laki kelak, meskipun pada akhirnya, fir’aun juga “tumbang” (melalui izin dan kehendak Allah) setelah tenggelam di laut merah. Dan masih banyak lagi kisah lainnya yang menggambarkan kepada kita bahwa cinta dunia hanya akan menyengsarakan kita baik di dunia maupun ketika ajal hendak menjemput kita.
Salah satu alasan lain mengapa cinta dunia dapat menjadi kesengsaraan bagi kita, ialah karena dengan mencintai kehidupan dunia, akan timbul rasa ingin memiliki untuk selamanya dan takut kehilangan kenikmatan dunia tersebut. Perasaan tersebut hanya akan menimbulkan perasaan cemas, takut dan sebagainya, sehingga setiap harinya kita akan merasa seperti terancam dan hanya menambah beban pikiran kita.
Karakteristik kedua dari pemimpin yang baik, sesuai dengan SMS tauhid yang saya terima ialah tidak diperbudak oleh nafsu. Sebenarnya untuk karakteristik yang kedua ini, masih berhubungan dengan karakteristik yang pertama tadi. Karena pada dasarnya, kecintaan dunia adalah salah satu akibat dari diperbudak nya kita oleh hawa nafsu kita sendiri. Selain itu juga, karena hawa nafsu tersebut dapat menyebabkan kita terjerumus pada sebuah keburukan jika kita tidak mampu mengendalikannya.
Untuk melengkapi penjelasan mengenai karakteristik yang kedua ini, saya ingatkan kembali perkataan seseorang yang paling berpengaruh di dunia ini (menurut Michael Hart), Nabi Muhammad SAW selepas perang badar. Ketika itu beliau pernah bersabda, yang intinya bahwa perang terbesar, setelah perang badar tersebut ialah perang melawan hawa nafsu.  Hal ini sudah menjadi bukti bahwa hawa nafsu merupakan lawan yang paling berat bagi manusia saat ini. Sehingga, pemimpin yang baik tentunya dapat mengendalikan hawa nafsunya bukan justru diperbudak oleh hawa nafsunya.
Semuanya kembali pada diri kita sendiri…
Jika saya sederhanakan, kecintaan pada dunia dan diperbudak oleh hawa nafsu tersebut bersumber dari tindakan berlebih-lebihan. Maka benarlah jika ada sebuah perintah untuk tidak berlebih-lebihan dan membiasakan cukup dalam segala hal, bahkan dalam kebaikan. Karena sikap berlebih-lebihan dalam hal-hal hanya akan menimbulkan kecintaan kita pada dunia yang justru menjadi penderitaan bagi kita sendiri nantinya.
Terakhir, karena pemimpin adalah dia yang dapat memberikan pengaruh kepada orang lain, maka pemimpin yang baik tentunya dapat mempengaruhi dirinya sendiri terlebih dahulu untuk baik, sebelum kemudian mempengaruhi orang lain. Dan berdasarkan pesan dari AA Gym, yang disampaikan lewat SMS tauhid tadi siang, bahwa “Tak akan bisa jadi pemimpin yang baik, pemimpin yang cinta dunia dan diperbudak nafsu”. Wallahu’alam.