Pages

Labels

slide

5 Maret 2014

Teorema Tukang Parkir

Teorema Tukang Parkir

Ada pelajaran menarik yang bisa kita ambil dari pekerjaan seorang tukang parkir. Sebelumnya, tulisan ini dibuat dengan tanpa ada maksud untuk mendiskreditkan pihak mana pun. Tulisan ini merupakan menyampaikan pandangan penulis mengenai pelajaran yang bisa diambil dari pekerjaan tukang parkir dan korelasinya dengan amanah yang diterima manusia di bumi ini.

sumber gambar : http://maramissetiawan.wordpress.com
Sudah bukan rahasia lagi, bahwa jika suatu tempat memiliki probabilitas “kedatangan” pengunjung yang banyak, di tempat itu juga (biasanya) akan ada satu atau beberapa orang yang berprofesi sebagai tukang parkir. Terlepas dari apakah mereka berasal dari sebuah instansi pemerintahan atau swasta yang bersifat legal, ataupun mereka bersifat independen tanpa ada ikatan dengan instansi apa pun.

Namun, dalam tulisan ini tidak akan dibahas permasalahan legal atau tidaknya pekerjaan tersebut, karena (sekali lagi) yang akan menjadi fokus materinya ialah esensi atau pelajaran yang dapat diambil dari pekerjaan tukang parkir tersebut dan korelasinya dengan amanah yang diterima manusia di bumi ini.

Teorema Satu : “Menjaga” untuk Mendapat Imbalan

Salah satu tugas utama dari seorang tukang parkir ialah menjaga kendaraan pengunjung, agar aman dan tertib selama diparkir. Aman berarti kendaraan pengunjung tersebut bebas dari sesuatu yang tidak diharapkan. Sementara tertib berarti kendaraan pengunjung tersebut tidak lantas menghalangi kendaraan pengunjung lainnya, atau juga berarti pengoptimalan lahan parkir yang terbatas.

Penjagaan tersebut menjadi salah satu alasan juga seseorang tukang parkir “berhak” menerima imbalan. Terlepas dari besarnya tarif imbalan tersebut, pengguna jasa tukang parkir memiliki hak membayar imbalan tersebut sesuai kesepakatan kedua belah pihak, yang menjadi ganti atas jasa yang diterimanya.

Jika dikorelasikan dengan kehidupan di dunia ini, maka analogi sederhana dari tukang parkir tersebut bisa menjadi pengingat akan tugas kita di dunia. Sebagai seorang makhluk yang memiliki hak yang istimewa dibandingkan dengan makhluk lainnya, manusia memiliki tugas untuk “menjaga” bumi ini.

Tugas penjagaan  yang diamanahkan kepada manusia tersebut bukanlah tanpa alasan. Selain karena hanya manusia yang dikaruniai akal, jasad dan ruh sekaligus, yang makhluk lain tidak memilikinya, tugas tersebut sudah menjadi ketentuan dan kesepakatan yang telah dibuat antara manusia dan Sang pencipta-nya sebelumnya. Maka dari itu, tugas penjagaan ini adalah tugas yang mulia yang “hanya” manusialah yang berhak mengembannya.

Kemudian, sebagaimana tukang parkir tadi, penjagaan terhadap alam ini nantinya akan mendapatkan “imbalan” juga. Imbalan tersebut disesuaikan dengan bagaimana kualitas penjagaan manusia terhadap amanah yang dimilikinya. Penjagaan yang baik tentunya akan berbuah imbalan yang baik juga. Tapi sebaliknya, penjagaan yang buruk - yang dengan kata lain berarti membuat kerusakan – akan berbuah imbalan yang buruk juga.

Hanya saja berbeda dengan penerima jasa parkir,  yang akan memberikan imbalan atas tugas penjagaan terhadap alam kelak adalah sebaik-baiknya pemberi imbalan, yang tidak akan bebuat tidak adil dan merugikan salah satu pihak. Karena yang memberikan imbalan tersebut ialah Allah Rabb semesta alam, Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui.

“Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-An’am : 165)

Teorema Kedua : Hanya “Menjaga” bukan Memiliki

Seperti yang telah disebutkan pad sub bab sebelumnya, salah satu tugas utama seorang tukang parkir ialah menjaga kendaraan pengunjung. Dengan demikian, maka dapat dikatakan selama pengunjung tersebut belum kembali untuk mengambil kendaraannya tersebut, kendaraan tersebut menjadi tanggung jawab tukang parkir yang bersangkutan. Dengan kata lain bahwa tukang parkir tersebut bukan diberikan hak untuk memiliki, tapi dititipi untuk dijaga sementara, yang nantinya titipan tersebut akan diambil kembali oleh yang memilikinya.

Kendaraan yang dititipi sang pemilik kendaraan tersebut, menjadi tanggung jawab tukang parkir untuk dijaga dan dipastikan keamanan dan ketertibannya. Sehingga ketika pemilik kendaraan mengambil kembali kendaraannya tersebut kelak, tidak ada protes ataupun keluhan dari sang pemilik kendaraan, karena kendaraannya masih dalam keadaan yang sama seperti semula.

Begitu juga dengan tugas manusia sebagai khalifah di bumi ini. Meskipun manusia memiliki hak istimewa sebagai “wakil” Allah di bumi untuk menjaga bumi ini, manusia tidak benar-benar memiliki alam ini. Manusia hanya diberikan hak untuk menjaga dan atau mengelola. Dengan kata lain, manusia hanya “dititipi” yang suatu saat akan diambil kembali oleh Pemiliknya yaitu Allah Rabb semesta alam.

Namun meskipun hanya sebagai titipan, bumi ini harus tetap dijaga dengan sebaik-baiknya sebagai salah satu tanggung jawab manusia. Sehingga ketika Allah mengambil kembali hak-Nya atas bumi ini, imbalan yang akan diterima oleh manusia -atas dasar penjagaan terhadap bumi- pun berupa kebaikan dan bukan sebaliknya.

“Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar” (QS Asy-Syuro : 4)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.  Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS Al-Zalzalah :7-8)

Terlalu sederhana memang analogi antara tukang parkir dengan tugas manusia sebagai khalifah di bumi ini. Bahkan mungkin terdapat kekeliruan, baik itu dalam penulisan maupun dalam isi dari tulisan tersebut. Hanya saja, semoga yang sederhana ini bisa mengingatkan kita akan tugas kita yang paling utama sebagai manusia di bumi ini. Selain itu juga, hal ini menjadi salah satu upaya implementasi dari amar ma’ruf nahyi mungkar dan hadist Nabi Sholallohu’alaihi Wassalam, Balighu anni walao ayah”.

Seperti halnya tukang parkir yang menjadi penjaga kendaran, ingatlah bahwa tugas kita sebagai manusia adalah sebagai seorang “penjaga” alam semesta ini. Karena kita hanya diberikan tugas dan hak untuk menjaga, maka kelak yang kita jaga tersebut akan diambil oleh pemiliknya - hanya orang yang bodoh yang merasa memiliki, apa yang sebenarnya tidak dia miliki dan tidak merasa senang ketika yang dirasa miliknya tersebut diambil oleh pemiliknya -. Dan sungguh, imbalan yang akan kita terima nanti pasti akan sesuai dengan bagaimana kualitas penjagaan kita terhadap amanah yang kita miliki, selain dari rahmat Allah tentunya. Wallohu’alam

28 Februari 2014

Membangun Komitmen

Membangun Komitmen


Sulit memang menjalani hidup dengan tanpa celah. Bahkan mungkin bisa dikatakan tidak mungkin. Hal ini tidak terlepas dari fluktuatifnya keimanan dan juga silih bergantinya kesulitan dan kebahagiaan. 

source : http://deasukata.blogspot.com
Namun, bukan berarti hal tersebut menjadi alasan untuk mewajarkan kegiatan negatif. Bagaimana pun, keburukan adalah sebuah keburukan dan kebaikan tetap menjadi kebaikan. Keduanya tidak akan pernah dapat menjadi satu.

Meskipun keimanan itu fluktuatif dan kesulitan dan kebahagiaan itu dirasakan silih berganti, kita tidak serta merta “diperbolehkan” melakukan kesalahan dengan sengaja.
Salah satu hal yang menjadi wasilah atau sebab fluktuatifnya iman tersebut ialah tidak adanya komitmen akan sesuatu yang telah kita tentukan dan tekadkan sebelumnya. Misalnya ketika kita bertaubat, kita bertekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama kembali, namun ternyata selang beberapa hari atau minggu atau bulan atau tahun, kita lakukan lagi dosa yang telah kita tekadkan untuk tidak dilakukan (lagi) tersebut. Maka diperlukan komitmen untuk senantiasa menjaga I’tkad yang telah kita buat.

Dalam kasus lainnya juga, komitmen merupakan sebab mengapa seseorang bisa dianggap baik. Misalnya seorang pejabat yang menolak mendapatkan gratifikasi karena berkomitmen untuk tetap menjaga diri dari perbuatan negative, setidaknya akan mendapatkan kesan baik, meskipun mungkin banyak yang akan membencinya juga.

Sederhananya, komitmen tersebut akan menguatkan diri kita untuk senantiasa memeprtahankan tekad atau niat yang telah kita tentukan sebelumnya. Dengan hadirnya komitmen, diri kita akan terpacu untuk berusaha tidak melanggar apa yang telah kita tekadkan untuk tidak dilakukan. Namun, jika tidak ada komitmen yang kuat dalam diri kita untuk menjaga kebaikan yang telah kita tekadkan dan lakukan sebelumnya, maka akan lebih mudah bagi kita melanggar dan tidak melaksanakan kebaikan tersebut.

Namun, seperti halnya kebaikan yang lain, terkadang tulisan terlalu sederhana dbandingkan dengan usaha perwujudannya. Begitu juga dengan komitmen, meskipun secara sadar kita mengetahui dan meyakini pentingnya berkomitmen dalam kebaikan, perwujudan dari komitmen tersebut bukanlah hal yang mudah. Hal inilah yang perlu kita waspadai bersama.

Kebaikan tetaplah kebaikan yang memerlukan usaha lebih untuk senantiasa melakukannya, karena kita tidak hanya “bermusuhan” dengan diri kita sendiri, namun juga makhluk lain yang senantiasa membujuk kita untuk berpaling. Hanya saja sudah menjadi tugas kita untuk memilih dan memutuskan hendak kemana kita akan memihak, apakah kita termasuk golongan yang berpaling atau justru kita termasuk golongan orang-orang beriman yang tetap berkomitmen pada kebaikan dan tidak akan berpaling, meskipun nyawa sebagai taruhannya? Wallahu’alam

8 Januari 2014

Great Leader(s)

Mengenai Pemimpin yang Baik
“Tak akan bisa jadi pemimpin yang baik, pemimpin yang cinta dunia dan diperbudak nafsu” SMS Tauhid-AA Gym
sumber gmbar : http://www.forbes.com
/sites/mikemyatt/2012/09/19/
every-great-leader-has-this-quality-do-you/
Deg. Tiba-tiba SMS tersebut masuk ketika saya sedang bermain game. Memang seringkali SMS tauhid yang dikelola oleh Daarut Tauhid (salah satu lembaga yang dimiliki oleh Kiyai Abdullah Gymnastiar atau lebih akrab dikenal AA Gym), datang pada saat yang tepat (untuk mengingatkan). Bahkan tidak jarang SMS tersebut datang sebagai jawaban atas sebuah permasalahan atau pertanyaan yang sedang saya hadapi. Ya, salah satunya SMS yang datang siang tadi, yang saya tuliskan di atas.
Ada beberapa hal yang membuat SMS tersebut begitu berkesan bagi saya. Pertama, SMS tersebut datang seakan menjadi sebuah pengingat bagi saya ketika saya sedang bermain game yang notabene sedang mengikuti hawa nafsu saya (jelas saja, karena pada saat itu sudah hampir lebih dari 2 jam saya main game tersebut). Kedua, isi dari SMS tersebut memiliki sebuah pernyataan secara langsung mengenai pemimpin yang baik. Ketiga, proximity (kedekatan atau keterkaitan) dari SMS tersebut meliputi semua manusia, karena dalam keterangan yang lain dikatakan bahwa setiap kita (manusia) adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kita pimpin, tentunya saya salah satunya. Intinya SMS tersebut begitu menyentuh saya ketika itu.
Pemimpin yang Baik
Oke, sekarang mari kita bahas pandangan saya mengenai esensi dari SMS tersebut. Seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa setiap manusia adalah pemimpin yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Sedangkan SMS tersebut memberikan penjelasan mengenai karakteristik pemimpin yang baik. Jika isi SMS tersebut dikorelasikan dengan keterangan bahwa setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dia pimpin tadi, maka pemimpin yang baik berarti pemimpin yang bisa mempertanggungjawabkan apa yang dia pimpin tersebut dengan baik juga. Intinya, pemimpin tersebut bertanggungjawab.
Kemudian tidak sampai disana. Dalam SMS tersebut juga, disebutkan dua karakteristik pemimpin yang baik. Pertama ialah tidak cinta dunia dan yang kedua ialah tidak diperbudak nafsu. Mari kita bahas satu-persatu.
Karakteristik pertama ialah tidak cinta dunia. Menurut pandangan saya, dunia disini bermaksud kehidupan kita sekarang dan segala yang ada dalam kehidupan ini, baik itu harta, jabatan maupun kenikmatan lainnya. Intinya, dunia tersebut bermakna kehidupan yang sedang kita jalani saat ini sampai kita mati kelak dan segala isinya, bisa berbentuk materi maupun non-materi.
Untuk menjelaskan karakteristik yang pertama ini, saya akan mengambil contoh kasus yang saat ini sering terjadi di sekitar kita yaitu tentang pejabat negara yang korupsi. Mengapa? Karena korupsi yang dilakukan oleh beberapa pejabat negara tersebut menggambarkan kecintaan nya pada dunia. Kecintaan nya pada dunia tersebut direpresentasikan dengan keinginannya untuk memiliki harta (materi) sebanyak mungkin. Padahal jika dihitung, gaji yang didapatkannya ditambah dengan biaya kompensasi yang diterimanya setiap hari, masih jauh lebih besar jika dibandingkan dengan gaji mayoritas masyarakat kita saat ini.
Lantas apa yang membuat mereka masih saja “mencuri” sesuatu yang bukan menjadi haknya? Tentulah hal ini kembali pada kecintaan nya pada dunia dan menganggap bahwa kenikmatan dunia adalah kenikmatan yang utama.
Jika kita lihat dan ingat kembali sejarah masa lalu, sudah banyak sekali contoh manusia-manusia yang karena kecintaan nya pada dunia menyebabkan dia menjadi menderita, baik ketika hidupnya, maupun ketika ajal hendak menjemputnya.
Kita mungkin masih ingat bagaimana kisah Qarun begitu melegenda dengan kisahnya yang menyimpan harta begitu banyak, namun akhirnya “tumbang” (melalui izin dan kehendak Allah) karena kecintaan nya pada harta (dunia) tersebut. Kemudian tentunya kita masih ingat bagaimana kekejaman fir’aun yang menganggap dirinya sebagai Tuhan, kemudian membunuh semua bayi laki-laki, karena menurut peramal yang dipercayainya ketika itu, tahta fir’aun (sebagai raja mesir ketika itu), akan direbut oleh seorang laki-laki kelak, meskipun pada akhirnya, fir’aun juga “tumbang” (melalui izin dan kehendak Allah) setelah tenggelam di laut merah. Dan masih banyak lagi kisah lainnya yang menggambarkan kepada kita bahwa cinta dunia hanya akan menyengsarakan kita baik di dunia maupun ketika ajal hendak menjemput kita.
Salah satu alasan lain mengapa cinta dunia dapat menjadi kesengsaraan bagi kita, ialah karena dengan mencintai kehidupan dunia, akan timbul rasa ingin memiliki untuk selamanya dan takut kehilangan kenikmatan dunia tersebut. Perasaan tersebut hanya akan menimbulkan perasaan cemas, takut dan sebagainya, sehingga setiap harinya kita akan merasa seperti terancam dan hanya menambah beban pikiran kita.
Karakteristik kedua dari pemimpin yang baik, sesuai dengan SMS tauhid yang saya terima ialah tidak diperbudak oleh nafsu. Sebenarnya untuk karakteristik yang kedua ini, masih berhubungan dengan karakteristik yang pertama tadi. Karena pada dasarnya, kecintaan dunia adalah salah satu akibat dari diperbudak nya kita oleh hawa nafsu kita sendiri. Selain itu juga, karena hawa nafsu tersebut dapat menyebabkan kita terjerumus pada sebuah keburukan jika kita tidak mampu mengendalikannya.
Untuk melengkapi penjelasan mengenai karakteristik yang kedua ini, saya ingatkan kembali perkataan seseorang yang paling berpengaruh di dunia ini (menurut Michael Hart), Nabi Muhammad SAW selepas perang badar. Ketika itu beliau pernah bersabda, yang intinya bahwa perang terbesar, setelah perang badar tersebut ialah perang melawan hawa nafsu.  Hal ini sudah menjadi bukti bahwa hawa nafsu merupakan lawan yang paling berat bagi manusia saat ini. Sehingga, pemimpin yang baik tentunya dapat mengendalikan hawa nafsunya bukan justru diperbudak oleh hawa nafsunya.
Semuanya kembali pada diri kita sendiri…
Jika saya sederhanakan, kecintaan pada dunia dan diperbudak oleh hawa nafsu tersebut bersumber dari tindakan berlebih-lebihan. Maka benarlah jika ada sebuah perintah untuk tidak berlebih-lebihan dan membiasakan cukup dalam segala hal, bahkan dalam kebaikan. Karena sikap berlebih-lebihan dalam hal-hal hanya akan menimbulkan kecintaan kita pada dunia yang justru menjadi penderitaan bagi kita sendiri nantinya.
Terakhir, karena pemimpin adalah dia yang dapat memberikan pengaruh kepada orang lain, maka pemimpin yang baik tentunya dapat mempengaruhi dirinya sendiri terlebih dahulu untuk baik, sebelum kemudian mempengaruhi orang lain. Dan berdasarkan pesan dari AA Gym, yang disampaikan lewat SMS tauhid tadi siang, bahwa “Tak akan bisa jadi pemimpin yang baik, pemimpin yang cinta dunia dan diperbudak nafsu”. Wallahu’alam.

22 Desember 2013

Dari Ayunan sampai Liang Lahat

Resensi Buku
Dari Ayunan Sampai Liang Lahat, Imam Ahmad rahimahullah
Pemuda Ilmu dari Negeri Baghdad

Judul Buku                       : Dari Ayunan Sampai Liang Lahat
Penulis                             : Abu Nasyim Mukhtar
Penerbit                           : Toobagus Publishing
Tahun Terbit                    : 2013
Kota Terbit                      : Bandung
Jumlah Halaman               : 196 Halaman

Sumber gambar : http://toko-has.com
“Selalu dengan mahbarah, sampai pun nanti ke maqrabah”. Begitulah jawaban Al-Imam Ahmad ketika ditanya alasan beliau tetap melakukan thalabul ‘ilmi (mencari ilmu) meskipun sudah menjadi seorang Imam yang terkemuka di kalangan kaum muslimin. Sebuah jawaban yang merepresentasikan kecintaan Al-Imam Ahmad akan thalabul ‘ilmi. Sebuah jawaban yang menegaskan itikadnya untuk selalu mencari ilmu yang dianalogikan dengan mahbarah (alat tulis), sampai jenazahnya dipanggul di atas bahu menuju kuburan (maqbarah).
Kecintaan Al-Imam Ahmad dalam mencari ilmu bisa terlihat dari jauhnya jarak yang beliau tempuh untuk mencari ilmu. Bayangkan saja, ketika dihitung semenjak pertama kali meninggalkan tempat kelahirannya Baghdad menuju Kufah, kemudian ke Bashrah, Baghdad, Hijaz, Makkah, Yaman dan tempat lainnya, jarak yang Al-Imam Ahmad tempuh jika dihitung ialah sama dengan diameter mengelilingi bumi. Padahal, ketika itu belum ada kendaraan yang menggunakan mesin seperti halnya motor, mobil, pesawat dan sebagainya. Bahkan, jarak dari satu tempat ke tempat yang lain pun harus ditempuh dalam waktu satu bulan. Sebuah bukti yang menegaskan kecintaan Al-imam Ahmad dalam mencari ilmu.
Nampaknya, kecintaan Al-Imam Ahmad dalam mencari ilmu seperti yang diuraikan di atas lah yang membuat Abu Nasyim Mukhtar, menulis biografi singkat rihlah atau perjalanan Al-Imam Ahmad dalam mencari ilmu. Cerita mengenai kesabaran Al-Imam Ahmad dalam mencari ilmu dengan berjalan kaki sampai satu bulan, pertemuan Al-Imam Ahmad dengan ulama-ulama besar ketika itu, sedikit cerita tentang tragedi mihnah dan sikap Al-Imam Ahmad terhadap guru dan muridnya, dengan ringkas Abu Nasyim tuliskan dalam bukunya “Dari Ayunan Sampai Liang Lahat”.
Dalam buku “Dari Ayunan Sampai Liang Lahat” tersebut, diceritakan pula bagaimana kesabaran Ibunda Al-Imam Ahmad, Shafiyyah bintu Abdul Malik dalam mendidik Al-Imam Ahmad. Bagaimana tidak, ayahanda Al-Imam Ahmad, Muhammad bin Hanbal sudah meninggal dunia sebelum Al-Imam Ahmad laihr ke dunia ini. Tentunya hal ini menjadikan peranan Ummi Shafiyyah dalam mendidik dan merawat Al-Imam Ahmad semakin berat, karena beliau harus berperan juga sebagai ayah secara langsung. Diceritakan bahwa Ummi Shafiyyah terpaksa menyewakan salah satu bangunan sederhana yang ditinggalkan suaminya, untuk merawat dan memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua, karena beliau bertekad untuk tidak tergantung kepada orang lain, bahkan memutuskan untuk tidak menikah lagi, sebab ingin mendidik Al-Imam Ahmad dengan perhatian yang lebih.
Selain cerita antara Al-Imam Ahmad dan ibundanya, dalam buku “Dari Ayunan Sampai Liang Lahat” juga diceritakan mengenai pengalaman Al-Imam Ahmad ketika mencari ilmu dan bertemu dengan ulama-ulama besar ketika itu seperti Imam Syafi’I, Abu Mu’awiyah Adh-Dhahir, Waki Bin Al-Jarrah, Yahya Bin Sa’id Al Qattan, Abdurrazaq Bin Hammam dan yang lainnya. Salah satu yang membuat Al-Imam Ahmad begitu istimewa ialah, hampir semua guru yang pernah memberikan pengajaran dan menyampaikan sebuah riwayat hadits kepada beliau memuji dan menyanjung kesabaran serta ketaatan Al-Imam Ahmad. Seperti yang pernah disampaikan oleh Imam Syafi’i sebagai berikut :
“Saat aku meninggalkan Baghdad, tidak ada orang yang lebih alim, lebih afdhal, lebih faqih dan lebih bertaqwa daripada Ahmad bin Hanbal”
“Wahai Abu Abdillah, jika sebuah hadits menurut Anda shahih, beritahukan kepada saya. Aku akan pegang hadits itu. Entah orang tersebut dari Hijaz, Syam, Iraq atau Yaman”.
Dan benar saja, setiap hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Syafi’I di dalam ktab Al Umm dengan mengatakan “seorang tsiqoh (terpercaya) telah menyampaikan kepadaku” maka yang beliau maksud tsiqoh tersebut adalah Al-Imam Ahmad. Sungguh menjadi sebuah bukti akan kebesaran dan ketaatan Al-Imam Ahmad.
Buku “Dari Ayunan Sampai Liang Lahat” memiliki tata bahasa yang mudah untuk dipahami. Setiap sub bab juga tidak memiliki terlalu banyak isi, sehingga tidak terkesan membosankan. Selain itu, cerita-cerita yang dituliskan juga diserta dengan sumber yang jelas, bahkan beberapa dibarengi juga dengan pendapat ahli sejarah, sehingga dapat diyakini keasliannya.
Hanya saja, terdapat banyak istilah-istilah dalam bahasa arab yang tidak dibarengi dengan keterangan atau penjelasan dalam bahasa Indonesia, dimungkinkan menjadi kesulitan tersendiri bagi beberapa pembaca, terutama yang belum menguasai bahasa arab.
Meskipun demikian, buku “Dari Ayunan Sampai Liang Lahat” sangat cocok sekali untuk para remaja terutama bagi yang masih saja merasa malas dalam mencari ilmu dan hendak mencari inspirasi dalam mencari ilmu. Selain bagi mereka yang malas, buku ini juga dapat menjadi sebuah refleksi bagi para pejuang tholabul ‘ilmi agar kelak tidak lantas berhenti untuk mencari ilmu. Terakhir, kutipan dari Abi Ghassan semoga dapat mengingatkan kita untuk senantiasa semangat dalam mencari ilmu.

“Engkau akan pantas disebut orang berilmu selama engkau masih terus belajar! Jika engkau merasa cukup sehingga tidak belajar, maka engkau adalah orang jahil”. 

2 Desember 2013

Akhir yang Indah untuk Mengawali Sebuah Keindahan yang Baru #1

Akhir yang Indah untuk Mengawali Sebuah Keindahan yang Baru

sumber gambar:
http://ullybako.blogspot.com
Nopermber 2013, memang sudah berlalu. Hanya saja, kesan yang terkandung pada hari terakhir bulan tersebut seakan menjadi pelengkap keindahan puzzle bulan tersebut secara utuh. Ini bukan tentang sebuah gejolak rasa yang bersifat sementara. Lebih jauh lagi, ada sebuah pelajaran yang tidak saya dapatkan di bangku perkuliahan atau bahkan seminar nasional sekalipun, karena hal ini berkaitan dengan kehidupan.

Ya, setiap orang memiliki persepsi masing-masing akan kehidupan yang dijalaninya. Setiap orang juga berhak mengekspresikan kehidupannya sesuai dengan apa yang dia inginkan.

Tapi, pernahkah kita berpikir bahwa tidak semua orang dapat melakukan hal tersebut, atau (saya perjelas lagi), tidak semua manusia memiliki kebebasan untuk mengonsep kehidupannya sesuai persepsinya, mengekspresikan apa yang dia inginkan, atau bahkan mereka sama sekali tidak mengenal apa itu kebebasan.
Malam itu saya belajar bagaimana kerasnya hidup ini. Mungkin bagi sebagian orang terkesan tidak adil atau aneh, ketika pada satu sisi ada orang yang menjalani kehidupan dengan dikaruniai harta yang melimpah, meskipun usaha yang dilakukannya bisa dibilang biasa-biasa saja atau bahkan hartanya didapat dengan cara yang tidak baik. Tapi di sisi lain, ada sekelompok orang yang harus berjuang lebih keras lagi, untuk menyambung kehidupannya meskipun hasil yang didapat sama sekali tidak mencukupi bahkan hanya untuk makan dua kali dalam sehari.

Bagi beberapa orang (mungkin termasuk kita), masa anak-anak menjadi masa yang sangat mengesankan. Bagaimana tidak, pada masa tersebutlah kita bisa merasakan dengan bebasnya bermain tanpa harus memikirkan laporan yang harus dikumpulkan besok hari, atau ketika kita bisa bebas meminta sesuatu kepada orang tua kita semau kita tanpa pernah kita memikirkan bagaimana orangtua kita mendapatkannya, atau bahkan ketika kita masih bisa dengan lelapnya tertidur di rumah pada malam hari di atas kasur, tanpa perlu begadang menyelesaikan tugas atau memikirkan apa yang akan kita makan esok hari, karena sudah yakin bahwa orang tua kita pasti akan menyiapkan makanan untuk kita. Bisa jadi hal tersebut yang menjadi penyebabnya, atau hal-hal lainnya.

Namun, pernahkah kita memikirkan dan bertanya pada sekelompok anak yang lain, yang ketika malam hari tiba mereka justru harus tetap terjaga agar mereka dapat memastikan bahwa besok mereka bisa makan, atau ketika malam tiba, mereka justru harus keluar rumah dan meninggalkan tempat tidurnya untuk mencari uang hanya untuk memastikan bahwa Ibunya yang sedang sakit tidak perlu bekerja dan agar dia bisa mendapatkan uang untuk membeli makan keluarganya, atau bahkan mereka harus rela tidak bermain dan menghilangkan keinginannya untuk bersenang-senang karena memang mereka tidak memiliki waktu untuk melakukannya, atau mungkin mereka tidak memiliki uang untuk membeli apa yang diinginkannya.

Malu memang, ketika mereka harus meminta-minta kepada masyarakat yang sedang berkumpul atau bermain di keramaian. Hanya saja, mereka harus membuang rasa malu tersebut agar perut yang setiap hari mereka bawa tidak menambah beban penderitaan mereka. Jika ditanya ingin bekerja yang lebih layak, tentunya mereka juga mau. Hanya saja, badannya yang masih kecil, tulangnya yang masih rawan bahkan tenaganya yang masih begitu lemah sangat rentan sekali dan tidak memungkinkan untuk bekerja yang berat. Bahkan, justru bukan di sanalah seharusnya mereka. Mereka seharusnya belajar untuk masa depannya yang lebih baik. Mereka seharusnya di rumah untuk menyelesaikan PR yang mereka punya. Hanya saja, mungkin kita sendiri belum sepenuhnya tahu, apakah memang mereka sekolah? Atau apakah mereka sanggup membayar biaya sekolah dan tetap melanjutkan sekolahnya? Karena bisa jadi mereka pikir buat apa sekolah, jika hanya mengganggu waktunya untuk mencari uang. Sekali lagi, mereka bukannya tidak mau sekolah. Hanya saja, kemauan terkadang tidak sejalan dengan kenyataan. Mereka menyadari itu.

Mungkin, bagi beberapa orang beberapa hal yang disebutkan di atas terkesan aneh dan bisa jadi ada sebuah persepsi bahwa Tuhan tidak adil. Tapi percayalah, Allah itu Maha Adil. Tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu secara dholim atau sia-sia. Segala yang diciptakannya memiliki hikmah dan sudah menjadi tugas kita (manusia), sebagai makhluk yang dikaruniai akal untuk mencari dan memikirkan hikmah tersebut.

Allah menciptakan mereka, salah satunya agar kita dapat bisa mensyukuri apa yang telah Dia berikan kepada kita. Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk sekolah, salah satunya agar kelak kita bisa membuat mereka juga bisa sekolah seperti kita. Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk tertidur agar kelak kita bisa membuat mereka lebih sejahtera sehingga tidak perlu mengemis lagi dan memiliki pekerjaan yang tetap. Namun kemudian pertanyaannya, sudahkah kita memikirkannya? Sudahkah kita mensyukuri apa yang kita miliki dan tidak selalu meminta lebih dengan semau kita? atau sudahkah kita peduli kepada sesama kita sebagai bentuk rasa syukur kita? Jika kita masih sulit menjawab pertanyaan tersebut, tanyakanlah jawabannya pada anak kecil tadi, yang harus meninggalkan masa-masa anaknya, agar perut yang senantiasa dibawanya setiap hari tidak menambah beban penderitaanya.
...

29 November 2013

No Smoking : Tidak Merokok Karena Allah (Resensi Buku)

Identitas Buku

Judul Buku                  : No Smoking : Tidak Merokok Karena Allah
Penulis                         : Syaikh Muhammad Jamil Zainu
Penerbit                       : Media Hidayah
Tahun Terbit                : 2003
Kota Terbit                  : Yogyakarta
Jumlah Halaman          : 104 Halaman

sumber gamba :
 http://gugundesign.wordpress.com
Merokok merupakan tindakan yang sudah dianggap wajar oleh masyarakat dunia, pada zaman ini. Bahkan pada beberapa kasus ditemukan bahwa rokok dijadikan sebagai sebuah indikator kedewasaan. Seseorang akan merasa lebih “dewasa” ketika sudah biasa merokok.
Hal ini tentunya menjadi sebuah ironi. Rokok yang pada hakikatnya mengandung bahan-bahan kimia berbahaya bagi tubuh, justru menghisapnya menjadi hal yang seakan dibanggakan. Jika demikian, apakah berarti dewasa itu identik dengan merusak diri sendiri? Padahal Allah melarang hal tersebut, sebagaimana firman-Nya :
“Janganlah kalian campakkan diri kalian dalam kehancuran” (QS Al-Baqoroh : 195)
Fenomena rokok yang sudah dianggap sebagai kebiasaan dan kewajaran ini, menjadi salah satu permasalahan yang dibahas Syaikh Muhammad Jamil dalam bukunya “No Smoking : Tidak Merokok Karena Allah”. Dalam buku tersebut, Syaikh Muhammad Jamil memberikan penjelasan kepada para pembaca mengenai bahaya rokok dari berbagai aspek, dari mulai kesehatan, ekonomi, sosial sampai dari segi moral.
Bahaya rokok yang ditinjau dari berbagai aspek tersebut, disempurnakan oleh penulis dengan dasar yang kuat, seperti ayat-ayat Al-Qur’an, Hadist Nabi, Hasil penelitian para ahli, sampai pengakuan perokok secara langsung.
Beberapa contoh bahaya rokok yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Jamil dalam buku “No Smoking : Tidak Merokok Karena Allah” diantaranya ialah :
Dari aspek kesehatan, rokok dapat menyebabkan sebab timbulnya penyakit-penyakit pernapasan hingga kanker. Hal ini dikarenakan rokok mengandung bahan-bahan berbahaya, seperti nikotin yang ternyata merupakan racun.
Kemudian dari aspek sosial, perokok secara tidak langsung memberikan dampak negatif kepada orang lain, ketika dia sedang merokok. Mengapa? Karena, secara tidak langsung asap rokok yang dihembuskannya terhisap oleh orang lain di dekatnya. Padahal asap rokok yang dihembuskan tersebut memiliki kandungan zat kimia yang lebih berbahaya dibanding yang dihisap.
Dari aspek ekonomi, merokok dapat dikategorikan perbuatan yang mengahmbur-hamburkan uang. Penulis melakukan analogi perhitungan sederhana mengenai biaya yang harus dikeluarkan seseorang untuk membeli rokok dalam setahun. Ternyata, dalam setahun, seorang perokok menghabiskan sekitar 540 juta rupiah, hanya untuk membeli rokok.
Dari berbagai aspek yang disebutkan, dapat disimpulkan bahwa rokok sangat berbahaya dan tingkat bahaya tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan manfaatnya.
Selain mengenai bahaya rokok, dalam buku “No Smoking : Tidak Merokok Karena Allah” tersebut, Syaikh Jamil juga menyebutkan beberapa hasil penelitian mengenai rokok, kemudian pendapat beberapa ulama yang mengharamkan rokok, seperti Syekh Ahmad Kurdi, Syeikh Muhammad Al-Hamid, Syeikh Badruddin Al Husaini Ad Dimasyqi dan ulama-ulama lainnya. Selain itu, diampaikan juga beberapa alternatif mengenai upaya yang dapat dilakukan ketika hendak berhenti merokok, diantaranya seperti : berdo’a kepada Allah, mengganti rokok dengan buah-buahan dan makanan yang baik lainnya dan meminum obat lubidan.
Sebagai penutup, penulis memberikan alternative jawaban dalam menghadapi setiap alasan atau pertanyaan perokok dan juga nasihat bagi para perokok.
Buku ini memberikan penjelasan yang cukup jelas mengenai rokok dan hukum merokok itu tersendiri. Selain itu juga, ukuran buku yang kecil menjadikan buku ini lebih praktis untuk dibawa kemana saja. Hanya saja, bahasa yang digunakan penulis terkesan sangat tegas dan mungkin bagi beberapa orang kurang nyaman dibaca. Selain itu, penulis memakai analogi-analogi dari negara asalnya (Syiria) dalam memberikan contoh kasus yang mungkin kurang sesuai dengan keadaan di Indonesia.
Buku ini sangat cocok sekali bagi yang belum atau bahkan tidak pernah merasakan rokok agar tidak lantas menjadi seorang perokok nantinya. Buku ini juga bisa jadi rujukan bagi para perokok, terutama yang hendak memutuskan untuk berhenti merokok namun masih ragu atau masih bingung bagaimana agar dapat berhenti dari kecanduan rokok/


22 September 2013

Belajar dari Seorang Umar Bin Khattab

Mencari Sosok Umar Bin Khattab Masa Kini
 “Wahai wajah yang muram! Barangsiapa ingin ibunya kehilangan anak dan anaknya menjadi yatim atau istri-istrinya menjadi janda, temuilah aku di belakang bukit itu besok pagi”Umar Bin Khattab r.a.
sumber gambar : http://nettastephania.netau.net/2013/03/kesederhanaan-sayyidina-umar-bin-khattab-r-a/
Begitulah Umar Bin Khattab ra., ketika pada suatu waktu, umat islam yang hendak berhijrah ke Yastrib (Madinah) berhijrah secara sembunyi-sembunyi dan dilakukan malam hari, Umar justru memberitakan I’tikadnya untuk berhijrah di dekat ka’bah, di depan masyarakat Makkah ketika itu. Bahkan, Umar menantang siapa saja yang ingin menghalanginya berhijrah untuk menemuinya dan berhadapan dengannya.
Sosok Umar bin Khattab memang sangat fenomenal. Bukan hanya dikalangan muslim saja, tapi musuh-musuhnya pun mengakui kewibawaan dan keberanian serta kharisma yang dimiliki Umar Bin Khattab. Bahkan, sebelum memeluk Islam, Umar Bin Khattab merupakan salah satu komandan perang utama suku Quraisy yang sangat disegani. Mungkin hal tersebutlah, yang membuat Rasulullah SAW pun suatu ketika berdo’a agar Umar Bin Khattab dan menjadi seorang muslim. Maka ketika Umar Bin Khattab masuk islam, Islam pun merasakan dampak besar yang dibawanya bahkan beliau menjadi salah satu khulafaurrasyidin yang menjadi suksesor Rasulullah SAW.
Kepemimpinan Umar Bin Khattab pun tidak diragukan lagi kualitasnya. Hal tersebut terbukti pada masa kepemimpinan beliau, menggantikan Abu bakar Ash-Shidiq. Ketika itu, Islam mampu meruntuhkan kejayaan Romawi yang sudah berkuasa selama berabad-abad dan Islam pun semakin tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Selain itu, Umar Bin Khattab pun mendapatkan gelar al-faruqatau pembeda antara yang haq dengan yang bathil dan Amirul Mu’mininatau pemimpinnya orang-orang yang beriman. Menurut sebuah keterangan, dikatakan bahwa gelar amirul mu’mininmerupakan gelar yang diberikan oleh seorang utusan dari Iraq yang pada suatu ketika ingin bertemu dengan Umar bin khattab yang ketika itu sudah menjadi khalifah. Selain itu, Umar Bin Khattab juga merupakan orang pertama yang mendapatkan gelar tersebut.
Selain kepemimpinan, keberanian dan kewibawaannya, Umar Bin Khattab pun merupakan seseorang yang cerdas dalam mengambil kebijakan atau memutuskan suatu perkara. Selain itu, beliau juga terkenal sebagai seorang pedagang yang cerdas.  Bahkan, seringkali sebuah wahyu itu turun, sejalan dengan pandangnya. Maka, tidak salah suatu ketika Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa jika saja ada nabi setelah Rasulullah SAW, maka dia adalah Umar Bin Khattab.
Dengan segala kemuliaan yang dimilikinya, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ummat islam saat ini membutuhkan sosok seperti Umar Bin khattab ra. Keberanian beliau dalam menyampaikan kebenaran dan kepemimpinannya serta ketegasannya, menjadi hal yang sangat langka dikalangan muslim bahkan manusia masa kini.
Satu hal saja, misalnya tentang keberanian kini menjadi salah satu hal yang langka di kalangan muslim. Tidak perlu muluk-muluk, berani untuk tidak berbuat maksiat saja, sudah menjadi hal yang asing saat ini. Lebih jauh lagi, berani untuk menyuarakan kebaikan, ketika taruhannya adalah nyawa.
Sebenarnya bisa jadi banyak orang yang berani saat ini. Tapi tetap saja, ada suatu hal yang berbeda yaitu tentang niat atau motivasi dari keberanian tersebut. Keberanian seorang Amirul Mu’mininUmar Bin Khattab ra., merupakan kebarnian yang tulus dan ikhlas hanya untuk Allah SWT. Sementara, mayoritas muslim saat ini seringkali memiliki keberanian karena alasan dan tujuan lain yang bersifat duniawi.
Selain dari keberanian, salah satu yang sangat langka di kalangan muslim saat ini ialah kezuhudan beliau akan kepemimpinan yang beliau terima. Beliau juga dikenal sebagai pemimpin yang merakyat dan tidak lantas merasa sombong dan tinggi hati dengan jabatan yang diterimanya. Seringkali ditemui, Umar Bin Khattab yang sudah menjadi seorang khalifah sedang  tidur hanya beralaskan tikar atau di bawah pohon yang rindang, sendiri tanpa ada seorang pun ajudan. Bahkan Umar Bin Khattab seringkali bepergian menunggangi unta sendiri tanpa ada seorang pun pengawal. Hal seperti itu mungkin sudah sangat jarang kita temui saat ini. Justru yang dilakukan pemimpin-pemimpin saat ini merupakan kebalikan dari apa yang Amirul Mu’mininlakukan. Pemimpin saat ini lebih memilih tidur di tempat yang nyaman, ketika masih banyak warganya yang bahkan tidak memiliki tempat tinggal. Pemimpin saat ini tidak pernah sepi dari pengawal, bahkan sampai menutup jalan umum ketika hendak pergi ke suatu tempat.
Mencari sosok Umar Bin Khattab masa kini, sebenarnya menjadi salah satu hal yang sulit direalisasikan bahkan mungkin menjadi sebuah ketidakmungkinan. Umar Bin Khattab memang sudah kembali ke hadapan Allah Azza Wajalla dan mungkin sedang merasakan indahnya kehidupan setelah kematian. Namun, mencari sosok yang memiliki karakteristik seperti beliau menjadi tantangan bagi seluruh ummat muslim saat ini. Bisa jadi, karakteristik tersebut tidak hanya dimiliki oleh satu orang saja, tapi merupakan gabungan dari beberapa orang yang jika disatukan bisa merepresentasikan sosok Umar Bin Khattab ra. Semoga saja, kita termasuk diantaranya.